Selasa, 02 September 2008

Kolam renang portable

Kayaknya asik banget .. jika punya kolam renan yang bisa dipindah-pindahkan sesuai dengan keinginan kita. Mungkin ini bisa dijadikan peluang usaha untuk menyediakan play group dan TK dalam berenang di sekolah mereka.





Tangki Air PVC dan Tanki Air Fiberglass

Bisa dibayangkan gak foto dibawah ini yang membawa bak penampung air dengan bahan fiber mendaki gunung untuk menyediakan air untuk kehidupan sehari-hari mereka ? Betap berat dan rumitnya hanya untuk menyediakan air bersih!
Coba bandingkan dengan foto yang dibawah ini, ini adalah paket-paket bak penampung air hujan yang dipacking dalam sebuah mobil jeep yang dapat memuat beberapa paket bak penampung air hujan. Seandainya bapak yang diatas mendapatkan bak penampung air seperti dibawah ini, mungkin dia tidak akan kesusahan lagi menyediakan air untuk kehidupan sehari-hari nya

bukankah teknologi diciptakan untuk mempermudah umat manusia? Kenapa tidak sejak sekarang kita menggunakan teknologi dari bahan lembaran PVC ini ?

Jumat, 11 Juli 2008

Tangki Air PVC

Jangan bayangkan bahwa PVC yang dimaksud disini adalah pipa PVC yang selama ini kita kenal di masyarakat Indonesia untuk menyalurkan air dirumah-rumah. Yang dimaksud bahan PVC untuk tangki air ini adalah bahan sintetis dalam bentuk lembaran yang bisa dibentuk menjadi tangki air seperti gambar-gambar terlampir.

Mengapa menggunakan bahan PVC sebagai alat untuk menangkap air hujan? Ada beberapa keunggulan dari bahan pvc ini, antar lain ?
  • bahannya yang kuat juga kekuatan uji tegangan mencapai 3.000 N/50 mm untuk kualitas yang baik
  • sangat mudah dalam hal pengepakan karena bisa dilipat
  • pengangkutan menjadi lebih mudah dan murah karena pengepakan tidak menyebabkan volume menjadi besar, tidak seperti tangki air bahan fiber yang secara volume sangat sulit dalam hal pengiriman
  • instalasi dilapangan yang tidak membutuhkan waktu lama.
  • Sangat mudah untuk dibersihkan
Kelemahan dari bahan ini adalah :
  • bahan PVC masih sulit ditemukan di pasar Indonesia, jikapun ada maka dalam jumlah sedikit dan harga cukup mahal karena harus mengimport
  • peralatan untuk mengelas masih import, jikapun bisa dibuat di Indonesia maka hasilnya belum bisa dibuat secara masal sehingga peralatan tersebut masih tergolong mahal
  • Industri pendukung lainnya seperti alat katup pengisi air dan beberapa alat pendukung lainnya belum didapatkan di Indonesia
Berikut foto-foto tangki air yang bisa dibuat dari bahan PVC


Bladder











Onion Tank










Water Tank










Jika membutuhkan info lebih detil atau ingin memesan tangki air seperti gambar diatas, bisa menghubungi : Ferri Iskandar - Toko www.thetrekkers.com

Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 9

(2 Km di sebelah Utara Hotel Hyatt)

Kamdanen, Sarihardjo, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Telp +62-812-276-5434

SMS Hotline : +62-812-276-5434

Email : ferriisk@yahoo.com - ferriisk@thetrekkers.com


Ada apa dengan ketersediaan air

Lebih dari dua pertiga bagian dari seluruh permukaan bumi merupakan air, memberi tempat hidup yang 300 kali lebih luas dari pada daratan, akan tetapi sebagian besar dari air tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk kepentingan mahluk hidup karena berbagai alasan. Hanya 1 % saja yang merupakan air yang dapat dipergunakan sebagai air bersih.

Berbicara tentang air hujan tidak terlepas dari siklus air. Menurut wikipedia Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Lebih detilnya hujan (P) turun ke bumi, sebagian air itu langsung menguap (E), sebagian mengalir diatas permukaan (Q) sebagai danau, sungai dan laut. Air sungai, danau dan laut mengalami penguapan (E). Sebagian lagi meresap kedalam tanah dan menjadi air simpanan (S). Air itu ada yang meresap oleh tumbuhan dan menguap (ET), ada pula yang keluar sebagai mata air dan mengalir sebagai air permukaan. Air permukaan penguapan. Uap yang terbawa angin keatas mengembun menjadi awan. Dan awan menjadi hujan (sumber : Soemarwoto,1991)

Proses siklus hidrologi berlangsung terus-menerus yang membuat air menjadi sumber daya alam yang terbaharui. Jumlah air di bumi sangat banyak baik dalam bentuk cairan, gas / uap, maupun padat / es. Jumlah air seakan terlihat semakin banyak karena es di kutub utara dan kutub selatan mengalami pencairan terus menerus akibat pemanasan global bumi sehingga mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi.

Dilihat dari panjang dan pendeknya sebuah siklus air, ada 3 type tahapan proses siklus air atau siklus hidrologi ini :

A. Siklus Pendek / Siklus Kecil
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Terjadi kondensasi dan pembentukan awan
3. Turun hujan di permukaan laut

B. Siklus Sedang
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Terjadi kondensasi
3. Uap bergerak oleh tiupan angin ke darat
4. Pembentukan awan
5. Turun hujan di permukaan daratan
6. Air mengalir di sungai menuju laut kembali

C. Siklus Panjang / Siklus Besar
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Uap air mengalami sublimasi
3. Pembentukan awan yang mengandung kristal es
4. Awan bergerak oleh tiupan angin ke darat
5. Pembentukan awan
6. Turun salju
7. Pembentukan gletser
8. Gletser mencair membentuk aliran sungai
9. Air mengalir di sungai menuju darat dan kemudian ke laut

Dari ketiga type diatas air hujan merupakan komponen yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan siklus air atau siklus hidrologi. Akan tetapi hujan merupakan sisi pisau yang bermata dua, jika dikelola dengan baik maka dapat memberikan berjuta manfaat buat masyarakat akan tetapi jika tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan bencana yang dapat merugikan jutaan masyarakat juga.

Hampir setiap tahun kita selalu menghadapi bencana banjir, terutama pada bulan November sampai Januari. Lihat saja kejadian banjir bandang di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur pada 11 Desember 2002, dimana kurang lebih 26 orang tewas. Banjir bandang di Bohorok, Langkat, Sumatra Utara pada 2 November 2003 yang menewaskan 150 orang. Selain ratusan nyawa melayang, banjir juga menyebabkan rusaknya sarana prasarana, serta hilangnya sebagian besar harta benda. Banjir pada tahun 2004 juga menenggelamkan 269.615 hektar sawah di seluruh Indonesia, dengan 69.218 hektar diantaranya mengalami gagal panen (Kompas, 28/12/04).

Di sisi lain, kekeringan juga terjadi hampir setiap tahun. Pada tahun 2004 yang lalu kekeringan juga menyebabkan 13.150 hektar sawah di seluruh Indonesia mengalami puso (Kompas28/12/04). Saat ini saja pasokan air berkurang hampir sepertiganya dibandingkan dengan kondisi tahun 1970an, dimana bumi dihuni oleh 1,8 milyar penduduk. Pada tahun 2025 mendatang, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai 8,3 milyar orang. Besar kemungkinan pada saat itu Indonesia akan benar-benar mengalami krisis air, jika tidak diantisipasi sejak dini.

Kamis, 10 Juli 2008

Ada apa dengan air hujan

Jumlah curah hujan (CH) di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, cukup besar. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, curah hujan di negeri ini antara 600 - 6.000 mm/tahun, rata-rata 2.420 mm/tahun.

Curah hujan di Jawa rata-rata 2.000mm/tahun, bahkan di kabupaten Magelang tercatat 2.252 - 3.627 mm/tahun. Kalau saja kita bisa memanfaatkan 60% dari hujan yang jatuh, atau sebesar 1.200.000m3/tahun untuk tiap km2. Jika kebutuhan air diasumsikan sebesar 150 lt/org/hr,maka volume tersebut bisa dipakai untuk melayani hampir 22.000 orang untuk tiap km2. DKI Jakarta, yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi di Indonesia, ditinggali oleh hampir 13.000 orang tiap km2. Angka tersebut masih jauh dibawah angka 22.000. Jadi sebenarnya potensi sumber daya air kita sangat besar

Menurut penelitian Bank Dunia, dari rata-rata 175 miliar m3 air hujan/tahun yang turun dan mengalir di 100 lokasi (21 wilayah) sungai di Pulau Jawa, hanya 126 miliar m3 yang dapat dimanfaatkan, karena sebagian besar air hujan terbuang percuma

Setiap 1 cm curah hujan yang jatuh di area sebesar 40 meter persegi bisa mendapatkan air hujan sebesar 900 liter atau 237 galon air. Bila luas atap rumah kita sebesar 100 meter persegi (atau 2.5×40 meter persegi) maka kita bisa dapatkan air hujan sebanyak 900 x 2.5 = 2250 liter air hujan untuk setiap 1 cm curah hujan. Rata-rata curah air hujan di Jakarta adalah 242 cm per tahun. Jadi per tahunnya kita bisa menangkap air hujan sebanyak 242 x 2250 yaitu = 544.500 liter air hanya dari rumah kita saja. (sama dengan 143,800 galon air). Kalau air galonan kita hargakan 1000 rupiah saja, kita sudah menghemat 143 Juta rupiah

Rabu, 09 Juli 2008

Mengapa memanen air hujan ?


Seiring dengan hujan hujan moonson selama musim hujan, India tidak kekurangan air. Tapi distribusi geografis dan bulanan dari air hujan tidak imbang. Karena itu, diperlukan pemanenan air hujan. (Khususnya hanya 70 persen dari penghuni perkotaan mememiliki akses untuk air minum yang aman). hanya 30 % dari air permukaan yang digunakan, sisanya mengalir ke laut. Maka, ada potensi yang besar untuk pemanenan air hujan.

Air tanah harus diisi dengan proses pengisian alami. Namun seiring dengan penggunaan berlebihan, level air tanah nampak menurun lebih dari 4 meter di sejumlah negara. Karena disana ada peningkatan yang tetap dalam irigasi air tanah, masalahnya semakin parah. Dengan meninjau peningkatan populasi dan urbanisasi, diperkirakan bahwa semua sumber air tanah akan digunakan semua pada 2025. Sekarang, sumur-sumur telah mengering, dan kualitas air tanah menurun.Masalah yang ebrhubungan adalah air laut (bergaram) mulai menyusup ke dalam wilayah pantai, seiring dengan turunnya air tanah.

Kelangkaan air bersih terkait dengan masalah ketersediaan air baku yang kian berkurang. Alternatif solusinya terletak pada kondisi air tanah berikut pengelolaannya, khususnya yang berasal dari air hujan antara 6 - 7 bulan per tahun. Sebab, kalau selama kurun waktu itu 50% dari jumlah air hujan bisa ditampung melalui bak penampungan air hujan dan disimpan sebagai air tanah lewat sumur-sumur resapan, akan membantu pemenuhan kebutuhan air tiap hari. Bahkan dapat ikut mengendalikan banjir dan intrusi air laut

Konsep memanen air hujan (rain water harvesting) diyakini bisa dilakukan untuk menanggulangi persoalan krisis ketersedian air bersih untuk berbagai keperluan. Istilah memanen hujan sebenarnya berasal dari bidang pertanian, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan air pertanian di daerah arid dan semi arid.

Namun, upaya memanen hujan di dunia internasional saat ini menjadi bagian penting dalam agenda global environmental water resources management dalam rangka penanggulangan ketimpangan air pada musim hujan dan kering (lack of water), kekurangan pasokan air bersih penduduk dunia, serta penanggulangan banjir dan kekeringan. Memanen hujan dapat didefinisikan sebagai upaya menampung air hujan untuk kebutuhan air bersih atau meresapkan air hujan ke dalam tanah untuk menanggulangi banjir dan kekeringan (Agus Maryono)

Kecenderungannya kini mulai ada trend membuat kolam tandon air hujan skala rumah tangga. Tandon skala rumah tangga ini digunakan untuk keperluan mengepel, mencuci mobil, menyiram tanaman, menggelontor toilet. Bahkan, ada yang dilengkapi sekaligus dengan perangkat pengolahan air mini, sehingga seluruh air hujan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum..
Memanen Air hujan diartikan sebagai upaya "mengelola air hujan dg kualitas yang relatif masih sangat bagus" untuk memenuhi kebutuhan air bersih masa sekarang dan mendatang, kebutuhan pertanian, kebutuhan pengisian air tanah dll

Dalam UU no 7 tahun 2004 tentang sumber daya air, juga sudah diamanatkan tentang pentingnya air hujan.

Selain ramah lingkungan pemanenan air hujan dapat menjadi jalan keluar ataspermasalahan air bersih bagi masyarakat marjinal di perkotaan. Kantung-kantung padat penduduk miskin di kota-kota besar di Indonesia, dapat menjadi lokasi uji coba teknik pemanenan air hujan untuk menjawab permasalahan air bersih.

Ide dasar sistem pemanenan air hujan sebenarnya sederhana yaitu menampung air hujan melalui atap rumah, mengalirkan ke bak penampung, dan memanfaatkannya untuk berbagai keperluan rumah tangga. Adapun untuk konsumsi, air hasil pemanenan perlu perlakuan khusus untuk dua alasan.

Masalah kebutuhan air bersih dapat ditanggulangi dengan memanfaatkan sumber air dan air hujan. Menampung air hujan dari atap rumah adalah cara lain untuk memperoleh air. Cara yang cukup mudah ini kebanyakan masih diabaikan karena atap rumah yang terbuat dari daun rumbia atau alang-alang tidak memungkinkannya. Namun pada rumah yang beratap genteng atau seng bergelombang, hal ini dengan mudah dapat dilakukan dengan memasang talang air sepanjang sisi atap dan mengalirkan air hujan itu ke dalam tempat penyimpanan.

Beberapa ahli mengatakan bahwa air hujan dapat dipanen dengan dua cara :
- Koleksi dan penyimpanan air pada tanki dan reservoir.
- Penyimpanan air hujan dalam batu2 dekat permukaan sebagai air tanah.

Sedangkan literature lain mengatakan ada 7 cara penyimpanan air yang biasa digunakan atau dipakai di daerah pedesaan di Indonesia. Ke-7 cara tersebut yaitu :
1) Gentong penampungan air cara cetakan (Kapasitas 250 liter)
2) Drum air cara kerangka kawat (Kapasitas 300 liter)
3) Bak penampungan air bambu semen (Kapasitas 2.500 liter)
4) Bak penampungan air bambu semen (Kapasitas 10.000 liter)
5) Instalasi air bersih pipa bambu metode tradisional
6) Instalasi air bersih pipa bambu sistem pengaliran tertutup
7) Bak penampungan sumber air/mata air

Umumnya penyimpanan air yang digunakan adalah bak penampung yang dibuat dari drum, genteng dan bambu semen. Bahan ini digunakan karena : relatif murah, tahan lama, konstruksi kuat, mudah dibuat, bahan baku mudah didapat dan air yang ditampung tidak mudah tercemar.
Akan tetapi pengklasifikasian menurut cara menampung dan penggunaan air hujan bisa dilihat pada tabel berikut :

Air bisa digunakan langsung

  • Bak PAH Semen
  • Bak PAH Ferro semen
  • Bak PAH Fiber
  • Bak PAH PVC
  • Reservoar Geomembrane

Air bisa digunakan langsung dan mengkonservasi air tanah

  • Telaga
  • Cek Dam
  • Embung
  • Dam Parit

Mengkonservasi air tanah

  • Sumur resapan
  • Rorak
  • Saluran buntu
  • Lubang penampungan air (catch pit)


Selasa, 08 Juli 2008

Air hujan untuk Mengkonservasi air tanah

Mempertahankan hutan atau Reboisasi

Hutan dapat dijadikan sebagai komponen pemanen air dengan cara mempertahankan kelestarian hutan ataupun dengan melakukan reboisasi pada hutan yang telah gundul. Penelitian terakhir di hutan Amazon, Amerika Latin menyebutkan bahwa sebenarnya hutan dapat mendaur ulang hujan hingga 75 % dan 25% sisanya mengalir kehilir dan meresap kedalam tanah.

Mekanisme daur ulang hujan tersebut dimulai dengan evapotranspirasi, pembentukan awan di wilayah hutan dan awan ini jatuh kembali berupa hujan, demikian seterusnya. Daur ulang ini adalah mekanisme fungsi hutan dalam memanen hujan. Dengan 75% air hujan tersirkulasi di wilayah hutan, maka frekuensi hujan di wilayah tersebut relatif tinggi dan teratur serta musim hujannya realtif panjang. Hujan dengan frekuansi tinggi ini tidak akan menyebabkan banjir karena 75 % menguap dan hanya 25% mengalir kehilir. Kekeringan juga tidak akan terjadi, karena pasokan air 25 % ke hilir tersebut didapatkan secara kontinyu hampir sepanjang tahun.

Melihat fungsi hutan komponen daur ulang air hujan tersebut, maka kedepan hutan harus dipandang sebagai modal tetap atau aktiva tetap, bukan sebagai modal bergerak. Perlu disadari bahwa harga kayu yang dihasilkan dari merambah hutan tidak lebih dari 7% jika dibandingkan dengan harga fungsi hutan secara integral yaitu hutan sebagai penyimpan air, pengendali banjir, pengendali kekeringan, pengendali longsor, stabilisator temperatur, konservasi ekosistem mikro dan makro serta pemasok oksigen. (Agus Maryono)

Sumur Resapan

Yang dimaksud dengan sumur resapan air hujan adalah sarana untuk penampungan air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah.

Sedangkan metode sumur resapan sudah banyak dikenal masyarakat dan dapat diimplementasikan pada setiap unit perkantoran, tempat-tempat rekreasi, olah raga, pada ruas-ruas jalan, lapangan terbang, dan lain sebagainya. Masyarakat sudah banyak mengenal sumur resapan, namun implementasinya masih tergolong lambat.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, persyaratan umum yang harus dipenuhi adalah sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam, atau labil. Selain itu, sumur resapan juga dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum satu meter dari fondasi bangunan. Bentuk sumur itu sendiri boleh bundar atau persegi empat, sesuai selera. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah kita tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai.

Air hujan yang jatuh di atap rumah sekalipun dapat dialirkan ke sumur resapan melalui talang. Persyaratan teknis sumur resapan lainnya ialah kedalaman air tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan. Sedangkan struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah lebih besar atau sama dengan 2,0 cm/jam, dengan tiga klasifikasi. Pertama, permeabilitas tanah sedang (geluh kelanauan) 2,0-3,6 cm/jam. Kedua, permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm/jam. Ketiga, permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm/jam. Spesifikasi sumur resapan tersebut meliputi penutup sumur, dinding sumur bagian atas dan bawah, pengisi sumur, dan saluran air hujan. Untuk penutup sumur dapat digunakan, misalnya, pelat beton bertulang tebal 10 sentimeter dicampur satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil.

Dapat digunakan juga pelat beton tidak bertulang tebal 10 sentimeter dengan campuran perbandingan yang sama, berbentuk cubung dan tidak diberi beban di atasnya. Dapat digunakan juga ferocement setebal 10 sentimeter. Sedangkan untuk dinding sumur bagian atas dan bawah dapat menggunakan buis beton. Dinding sumur bagian atas juga dapat hanya menggunakan batu bata merah, batako, campuran satu bagian semen, empat bagian pasir, diplester dan diaci semen. Sementara pengisi sumur dapat menggunakan batu pecah ukuran 10-20 sentimeter, pecahan bata merah ukuran 5-10 sentimeter, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga. Untuk saluran air hujan, dapat digunakan pipa PVC berdiameter 110 milimeter, pipa beton berdiameter 200 milimeter, dan pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 milimeter. Sumur resapan dapat dibuat oleh tukang pembuat sumur gali berpengalaman dengan memerhatikan persyaratan teknis dan spesifikasi tersebut.

Dam Parit

Dam parit adalah salah satu alternatif konsep "zero flow" dan "long time ofconcentration". Bentuknya semacam embung atau waduk, tetapi memanjang seperti saluran. Air hujan yang jatuh pada suatu lahan ditampung ke dalam parit, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air irigasi.

Di samping peningkatan resapan air ke dalam tanah dan menghambat laju aliran ke sungai, teknologi dam parit ini juga dapat menampung air untuk sementara waktu dan menahan erosi yang mungkin terjadi di lahan sebelah hulu parit.

Rorak

Rorak adalah lubang kecil dengan panjang dan lebar 30-50 cm serta kedalaman 30-80 cm, yang digunakan untuk menampung sebagian aliran air permukaan. Air yang masuk ke dalam rorak akan tergenang untuk sementara dan mengisi pori tanah. Pebuatan rorak sangat sesuai untuk daerah dengan curah hujan tinggi dengan durasi pendek dan komposisi tanah berkadar lempung tinggi yang memiliki daya serap rendah.

Saluran buntu

Saluran buntu adalah bentuk lain dari rorak yang panjangnya beberapa meter. Penggenangan air tidak boleh terlalu lama (berhari-hari) karena dapat menyebabkan terganggunya pernapasan akar tanaman dan berkembangnya berbagai penyakit pada akar.
Lubang penampungan air (catch pit)

Bibit yang baru dipindahkan dari polybag ke kebun seharusnya dihindari dari kekurangan air. Sistem catch pit merupakan lubang kecil untuk menampung air untuk menjaga tingkat kelembaban tanah di dalam lubang dan di sekitar akar tanaman. Genangan pada lubang perlu dijaga, jika terlalu lama dapat menyebabkan kematian tanaman.

Senin, 07 Juli 2008

Memanen Hujan

Memanen Air hujan diartikan sebagai upaya "mengelola air hujan dengan kualitas yang relatif masih sangat bagus" untuk memenuhi kebutuhan air bersih masa sekarang dan mendatang, kebutuhan pertanian, kebutuhan pengisian air tanah dll. Definis lain menyebuatkan memanen hujan sebagai upaya menampung air hujan untuk kebutuhan air bersih atau meresapkan air hujan ke dalam tanah untuk menanggulangi banjir dan kekeringan.

Selain ramah lingkungan pemanenan air hujan dapat menjadi jalan keluar ataspermasalahan air bersih bagi masyarakat marjinal di perkotaan.Kantung-kantung padat penduduk miskin di kota-kota besar di Indonesia,dapat menjadi lokasi uji coba teknik pemanenan air hujan untuk menjawabpermasalahan air bersih.

Ide dasar sistem pemanenan air hujan sebenarnya sederhana yaitu menampungair hujan melalui atap rumah, mengalirkan ke bak penampung, danmemanfaatkannya untuk berbagai keperluan rumah tangga. Adapun untukkonsumsi, air hasil pemanenan perlu perlakuan khusus untuk dua alasan.

Air bisa digunakan langsung dan mengkonservasi air tanah

Cek dam

Cek dam adalah bendungan pada sungai kecil yang hanya ada aliran airnya selama musim hujan, sedangkan pada musim kemarau mengalami kekeringan. Aliran air dan sedimen dari sungai kecil tersebut terkumpul di dalam cek dam, sehingga pada musim hujan permukaan air menjadi lebih tinggi dan memudahkan pengalirannya ke lahan pertanian di sekitarnya. Pada musim kemarau diharapkan masih ada genangan air untuk tanaman, minum ternak, dan berbagai keperluan lainnya.

Embung

Embung adalah kolam buatan penampung air hujan dan aliran permukaan yang dibuat pada suatu cekungan di dalam suatu DAS mikro. Selama musim hujan, embung akan terisi oleh air aliran permukaan dan rembesan air di dalam lapisan tanah yang berasal dari tampungan di bagian hulu. Kapasitas embung berkisar antara 20.000 m3 (luasan 10.000 m2 dengan kedalaman 2 m) hingga 60.000 m3. Seringkali juga ditemui embung kecil berkapasitas 200 - 500 m3. Embung cocok dibuat pada tanah berkadar lempung tinggi karena peresapan air tidak terlalu besar.

Tujuan pembuatan embung antar lain a. menyediakan air untuk pengairan tanaman di musim kemarau, b. meningkatkan produktivitas lahan, masa pola tanam dan pendapatan petani di lahan tadah hujan. C. Mengaktifkan tenaga kerja petani pada musim kemarau sehingga mengurangi urbanisasi dari desa ke kota. D. Mencegah/mengurangi luapan air di musim hujan dan menekan resiko banjir. E. Memperbesar peresapan air ke dalam tanah.

Agar embung dapat bertahan lama, beberapa syarat lokasi yang harus diperhatikan sebelum melaksanakan pembuatan embung yaitu tekstur tanah. Agar fungsinya sebagai penampung air dapat terpenuhi, embung sebaiknya dibuat pada lahan dengan tanah liat berlempung. Pada tanah berpasir yang porous (mudah meresapkan air) tidak dianjurkan pembuatan embung karena air cepat hilang. Kalau terpaksa, dianjurkan memakai alas plastik atau ditembok sekeliling embung.

Minggu, 06 Juli 2008

Air bisa digunakan langsung

Bak PAH semen

Bangunan penampung air hujan (PAH) saat ini masih berukuran kecil dengan kualitas air yang miskin mineral, dan kadang-kadang sering retak akibat tidak adanya sistem pembasahan yang menerus terhadap bahan bangunannya. Dengan curah hujan yang tinggi dan dengan penguapan alami yang bisa ditiadakan untuk skala lokal, maka volume air hujan yang dikumpulkan bisa diperbesar asalkan bangunan penangkap air hujan yaitu atap bangunan luasnya juga diperbesar dan cukup memadai. Dalam bangunan ABSAH, ukuran resevoir penyimpan air hujan disesuaikan dengan melakukan perhitungan neraca hidrologi (mass curve analysis), dengan memperhatikan besar curah hujan dan luas atap bangunan. Kualitas air yang diperoleh bisa ditingkatkan mutunya, dan konstruksi bangunan dibuat tahan terhadap retakan.

Penyimpangan di Lapangan :
  • Aplikasi di lapangan tidak memakai saringan sehingga air tidak memenuhi syarat air bersih.
  • Ukuran untuk 1 KK tidak mengikuti perencanaan sehingga sangat kurang dari kebutuhan dasar.
Bak PAH Ferro semen

Biaya pembuatan bak PAH relatif mahal. Tetapi model PAH dari ferosemen biayanya lebih murah, mudah dibuat, bahan bakunya mudah didapat, konstruksi kuat, tahan lama, dan air yang ditampung pun tak tercemar.

Ferosemen adalah semacam dinding beton tipis dengan tulangan yang berlapis-lapis serta berdiameter kecil. Bahannya terdiri atas semen, kawat ayam, pasir, dan bak berbentuk silinder dengan volume antara 2,5 - 10 m3.

Kolam tandon air rumah tangga sudah banyak dipakai masyarakat secara tradisional sebagai cadangan air bersih. Misalnya kolam tandon harian komunal di Gunung Kidul, DI Yogyakarta (kolam PAH atau kolam pengumpul air hujan). Tiap keluarga secara individual membuat kolam tandon di bawah rumah atau di bawah teras. Untuk rumah sederhana dan rumah tingkat atau hotel dapat digunakan kolam tandon vertikal bentuk silinder dengan diameter 1-2 meter, disesuaikan dengan desain rumah yang ada, sehingga pengalirannya dapat dengan metode gravitasi.

Metode ini sangat menguntungkan karena minimal selama musim hujan kebutuhan dasar air bersih dapat ditopang dengan bak tandon ini. Dengan cara ini, kantor-kantor pemerintah dan swasta dapat memulai memanen hujan untuk mengurangi anggaran air bersih dari PDAM selama sekitar tujuh bulan (pada musim hujan dan beberapa bulan pada awal musim kemarau).

Bak PAH Fiber

>>>

Bak PAH dari bahan PVC
>>>

Sabtu, 05 Juli 2008

Menyiapkan air hujan untuk Air Minum

Penelitian membuktikan air hujan tidak dapat langsung dimanfaatkan sebagai air konsumsi baik untuk minum maupun memasak makanan. Sebab, air dari awan kandungan mineralnya rendah, kesadahannya juga rendah, asam (pH) rendah, namun unsur organik dan zat besinya tinggi yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan, seperti rapuhnya gigi.

Agar bisa dijadikan air minum, air hujan perlu ditambahkan mineral dengan memberikan kapur secukupnya. Namun, sebelum memanfaatkan air hujan, perlu adanya beberapa langkah dilakukan yakni membuat bak penyaring dan bak penampung.

Sebelum air dialirkan ke bak penampung, kurang lebih selama lima menit pertama air hujan harus dibuang untuk menghindari kotoran ke dalam bak penampung. Ketika tidak hujan kran pemasukan dan pengeluaran air harus dalam kondisi tertutup untuk menghindari masuknya kotoran organik atau binatang seperti nyamuk.

Untuk mengonsumsi air hujan sebagai air minum, para peneliti dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) menyarankan agar air tersebut direbus terlebih dahulu. Sebelum direbus perlu ditambahkan garam dapur sebanyak 36,3 mg dan kapur sirih 25 mg per liter. Untuk mengurangi kadar besi (Fe), jika menggunakan drum sebagai media penampung, drum dicat terlebih dahulu.

Agar air hujan, khususnya di daerah perkotaan dan industri udaranya banyak mengandung debu dan bakteri, dapat digunakan untuk keperluan minum dan memasak, maka air tampungan harus diolah. Yakni, harus melalui teknik penyehatan.

Tidak seperti air tanah, air hujan kekurangan garam mineral. Jadi, air hujan perlu ditambah garam kalsium. Zat kapur ini dijual oleh pedagang bangunan. Sebelum dilarutkan dalam sejumlah air, zat kapur dibersihkan dari kotoran. Lalu, larutan kapur ini dimasukkan ke dalam bak PAH dan diaduk supaya melarut sempurna. Takarannya, 25 - 100 g kapur untuk setiap 100 l air hujan. Jika kebanyakan, airnya akan terasa pahit. Pembubuhan garam kalsium ini juga untuk membebaskan gas C02 dari dalam air hujan. Gas itu bisa menimbulkan kerusakan pipa, tembok, dan beton.

Air hujan itu juga perlu ditambah kaporit sebagai desinfektan agar bakteri di dalamnya musnah. Takarannya, 1,5 g kaporit per 100 l air hujan cukup memadai. Tetapi karena kaporit yang dijual rata-rata berkadar aktif 35% dari berat total, maka kaporit yang semestinya dilarutkan adalah 4,29 g/100 l air hujan.

Untuk konsumsi, air hasil pemanenan perlu perlakuan khusus untuk dua alasan proses pemanenan air hujan tidak memungkinkan air hujan pertama berinteraksi dengan tanah sehingga air yang dihasilkan umumnya miskin mineral tanah yang dibutuhkan manusia. Misalnya kalsium, magnesium, dan kalium.

Kedua, tingkat pencemaran udara dari industri dan transportasi semakin meningkat sehingga di kebanyakan kota besar telah terjadi hujan asam.

Agar air tidak tercemar, perlu pula diperhatikan kemungkinan pencemarandari bahan atap rumah yang digunakan sebagai penampung air hujan. Bahan atap yang mengandung asbes dan logam berat (Hg, Cr, Pb, Cd, Cu) sebaiknya dihindari.

Jumat, 04 Juli 2008

Contoh kasus yang telah menerapkan memanen air hujan

Bandara Frankfurt dalam memanen air hujan

Salah satu contoh implementasi memanen air hujan adalah kebutuhan air bandara di Frankfurt, Jerman. Kebutuhan air di bandara dipasok dari air hujan yang dikumpulkan dari atap bandara tersebut. Ada beberapa metode hujan yang telah berkembang dan beberapa wacana memanen hujan yang dapat dikembangkan di Indonesia, baik memanen hujan yang langsung bisa dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih rumah tangga maupun memanen air hujan untuk mengisi air tanah. ( Agus Maryoto)

Pengalaman Jepang dalam memanen air hujan

Air hujan adalah sumber air primer. Tanpa air hujan tidak ada kehidupan di Bumi. Betapa berharganya air hujan, sampai-sampai di Jepang ada asosiasi pencinta hujan yang bernama Sumida.

Sumida adalah nama sebuah sungai besar yang mewarnai Kota Tokyo. LSM Sumida menyediakan segala sesuatu yang menyangkut pendayagunaan air hujan. Yang paling monumental adalah penampungan air hujan untuk antisipasi kebakaran di daerah perkampungan. Juga penggunaan air hujan untuk keperluan mencuci mobil, menyiram kebun dan toilet di gedung-gedung bertingkat. Bahkan kelompok ini pun mendesain penampungan air di atap gelanggang olahraga sumo yang luasnya mencapai 8.400 m2. Gedung-gedung pemerintah di Sumida City pun akhirnya memanfaatkan rancangan ini. Hasilnya? Penghematan air yang ruarr biasaaa!

Air hujan untuk mengantisipasi kebakaran (terutama di perkampungan yang tidak bisa dimasuki mobil pemadam) merupakan contoh pemanfaatan air secara bijaksana. Caranya amat sederhana. Tikungan atau persimpangan yang penting di kampung itu diperluas. Satu dua rumah diratakan. Tentu dengan ganti untung yang memadai. Di tempat itu dibikin kolam bawah tanah. Atasnya dipakai untuk taman. Beberapa pohon berbuah bisa ditanam di pinggiran. Lantas di tengah dipasang pompa. Untuk penanda apakah kolam penuh terisi air atau tidak dipasang patung dewa hujan. Bila penuh, patung itu akan berdiri tegak mempertontonkan seluruh tubuhnya. Kalau kosong tinggal topinya saja menutupi lubang tempat ia berdiri.
Patung dewa hujan itu disebut Jizo. Jizo ini sangat populer di masa silam. Anak-anak sekolah suka berteduh di bawah pohon-pohon yang mengelilingi Jizo bila hujan turun. Selain Jizo ada lagi satu peri yang juga populer, Kappa. Mirip katak, Kappa ini biasa menghiasi ember penampung air hujan. Roman mukanya akan sedih jika ember kosong, dan tersenyum gembira saat penuh.
Melalui ikon dan legenda yang sudah dikenal, Sumida menyosialisasikan program pemanfaatan air hujan. Cara lain adalah dengan mengadakan pertemuan, membentuk cabang dan ranting perkumpulan, membuat kuis atau cerdas cermat seputar masalah air.

Kelompok pencinta hujan ini wajib menyuluhi masyarakat tentang berbagai manfaat air. Bermacam-macam buku, poster, dan brosur diterbitkan untuk memuaskan dahaga masyarakat akan informasi mengenai hujan, pembuatan bak, penyaringan air, maupun pemasangan pompa untuk menaikkan lagi air ke lantai-lantai gedung bertingkat. Perlu diingat, kebanyakan air disimpan di bawah tanah karena terlalu berat bila ditampung atap. Atap berfungsi sebagai penadah saja.

Di Indonesia tradisi pemanfaatan air secara bijaksana bukannya tidak ada. Di NTT, misalnya, masyarakat suka menyimpan air dalam buli-buli atau gentong besar yang ditanam dalam tanah. Air dimanfaatkan hanya jika perlu. Sayangnya, tradisi itu tidak mengalir sampai ke perkotaan yang umumnya lebih banyak mengonsumsi air. Mengingat krisis air sudah di depan mata (Selamatkan Air Kita, Cing, Intisari Januari 2001), tak ada salahnya kita mengadopsi cara-cara orang Jepang tadi. (Khudori, alumnus Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Jember)

Jumat, 06 Juni 2008

Teknologi Air Bersih

Abstrak

Terdapat kesenjangan antara Teknologi yang ada dengan kebutuhan atau kemampuan masyarakat yang membutuhkannya dalam mengetahui dan memahami penyelenggaraan pembangunan , maka perlu dilaksanakan sosialisasi , advis teknis secara langsung di lingkungan pemerintah di daerah Propinsi, Kabupaten, Kota maupun pihak Swasta sehingga tercipta keandalan mutu produk Prasarana dan Sarana Kimpraswil (PSK) khususnya di bidang Teknologi Air Bersih

Teknologi Air Bersih yang dimulai dsrrpengambilan air baku, pengolahan air yang sangat tergantung dari kualitas air baku untuk menjadi menjadi air bersih, yang kemudian didistribusikan melalui perpipaan untuk ke area pelayanan.

Penerapan Teknologi Air Bersih dapat melalui kemitraan dengan pemberdayaan masyarakat maupun dengan swasta. Penerapan NSPM untuk teknologi tersebut berupa perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, serta pemeliharaan pasca pelaksanaan akan mengakibatkan optimalnya hasill pembangunan prasarana dan sarana Kimpraswil.

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Air beserta sumber-sumbernya merupakan salah satu kekayaan alam yang mutlak dibutuhkan oleh mahluk hidup guna menopang kelangsungan hidupnya dan memelihara kesehatannya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa air tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan, tanpa air tidaklah mungkin ada kehidupan.

Air yang mengisi lebih dari dua pertiga bagian dari seluruh permukaan bumi, memberi tempat hidup yang 300 kali lebih luas dari pada daratan, akan tetapi sebagian besar dari air tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk kepentingan mahluk hidup
1
Hanya 1% yang merupakan air manfaat yang dapat dipergunakan sebagai air bersih, untuk menjadi air bersih / air minum harus mengalami suatu Teknologi
Teknologi yang diterapkan mulai dari pengambilan air baku, pengolahan air untuk menjadi air bersih yang sangat tergantung kualitas sumber air baku, kemudian melaui system distribusi melalui perpipaan ke area pelayanan.
Peningkatan produksi air bersih dari suatu teknologi yang diterapkan mulai dari Pelita I meningkat terus, tapi tidak dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk, Pelita V cakupan sudah sampai 47 % yaitu 39 % perkotaan dan 8 % perdesaan, dengan target 60 %
Sampai dengan tahun 2000 cakupan menurun jadi 31 %, cakupan oleh PDAM baru 17 % . 01020304050607019771982198719972002TAHUNPertumbuhanpendudukPenambahankapasitas Cakupanpelayanan 47 37 31 0 921992 191997 2002
Dengan suplai air minum / air bersih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitas merupakan hal yang sifatnya strategis nasional.

1.2 Tujuan
Pengetahuan dan pemahaman teknologi air bersih diperlukan untuk mencegah tidak tepatnya penerapan yang terjadi karena :
- Lemahnya pengetahuan dalam spesifikasi;

Gambar 2 : . Macam-macam pengolahan air sampai ke pelayanan

10

50
2
- Salah dalam perencanaan;
- Tidak tepatnya dalam pelaksanaan;
- Lemahnya pengawasan;
- Lemahnya quality control;
- Salahnya dalam operasional dan pemeliharaan.
1.3. Lingkup
1. Sumber Air Baku dan Pengolahan Air
2. Pengelolaan / Manajemen
3. Sistem Transmisi dan Distribusi dan Pelayanan
4. Kemitraan dalam penerapan Teknologi Air Bersih dengan masyarakat atau swasta
Sumber Air Baku
Secara teknis berdasarkan siklus hidrologi yang ada di alam ini, dapatlah dibagi tiga sumber air baku untuk air bersih , yaitu :
- Air Angkasa (air hujan)
- Air Permukaan (sungai, danau, tampungan air)
- Air Tanah (mata air, air tanah dangkal dan dalam)
(1). Kuantitas.
a. Air Angkasa
Dari segi jumlah air hujan ini sangat terbatas sekali, dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi.
Faktor-faktor tersebut sangatlah terpengaruh juga oleh letak geografis, bentang alam dsb.
Pemanfaatan sumber air hujan ini biasanya digunakan apabila air tanah dan air permukaan tidak mungkin diperoleh pada suatu daerah.
Pemasalahan air hujan tidak memenuhi syarat untuk air bersih karena mengandung mineral yang sangat rendah, untuk itu teknologi penyediaan air bersih dapat digunakan dengan Bak Penampungan Air Hujan dengan memakai Saringan .
b. Air Permukaan
Dari segi jumlahnya air permukaan ini cukup banyak .

Gambar 4 : Pompa Hidram

Gambar 3 Air Hujan
3
Teknologi yang dapat digunakan Pompa Hidram untuk memindahkan air dari tempat jauh dan lebih tinggi untuk daerah yang dilayani dan Bangunan Pengambilan Air Baku
Permasalahan air dari air permukaan dari segi kualitas selain kekeruhan juga untuk daerah gambut warna tinggi dan pH asam .
c. Air Tanah dan Mata Air
1.
Dari segi kuantitas air tanah relatif cukup banyak dibandingkan air hujan. Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah dan terdapat di dalam rung-ruang antar butir-butir tanah dan dalam retakan dari batuan..
Dengan demikian air tanah ini sangat tergantung sekali terhadap keadaan kondisi tanahnya disamping itu juga, daerah aliran biasanya berupa hutan-hutan lindung dsb. Gambar 5 : Perlindungan mata airdan Sumur Pompa Tangan
Permasalahan air tanah umumnya mengandung kadar besi, mangan cukup tinggi
Teknologi yang dapat digunakan antara lain Perlindungan Mata Air Sumur pompa tangan, Sumur gali

(2). Kualitas Air

Untuk dapat dimanfaatkan air dari sumber air baku haruslah memenuhi suatu persyaratan kualitas yang tergantung sekali kepada jenis penggunaan tersebut :
Standar Kualaitas Air Baku untuk air bersih mengacu pada : Peraturan Menteri KLH (Baku Mutu Lingkungan)

Pengolahan Air
Air baku pada hakekatnya tidak memenuhi standar kwalitas air minum/bersih yang berlaku, sehingga unsur-unsur yang tidak memenuhi standar perlu dihilangkan ataupun dikurangi, agar seluruh air memenuhi standar yang berlaku. Hal ini dilaksanakan dengan pengolahan air. Teknologi untuk pengolahan air yang sangat tergantung dari sumber air baku dengan kualitas air yang bermacam-macam untuk dapat diolah.
Berikut ini permasalahan air baku dengan pengolahan air yang dapat diterapkan.
Permasalahan : Air Permukaan dari sungai dengan kekeruhan rendah
Teknologi Pengolahan Air :
-- Untuk 1 Keluarga (5 jiwa) dengan Instalasi Pengolahan Air Gambut
4
- Untuk Komunal dengan Saringan Pasir Lambat dan Instalasi Tipe
Cikapayang,
Acuan yang dapat diterapkan
1. Spesifikasi Instalasi Tipe Ciakapayang
2. Tata Cara Perencanaan Instalasi Saringan Pasir Lambat
3. Petunjuk Teknis Instalasi Pengolahan Air Gambut Individual dan Instalasi Pengolahan Sederhana
2. Permasalahan :
Air sungai / danau dengan
kekeruhan / warna tinggi ,
pH rendah (asam)
Teknologi Pengolahan Air :
1. Untuk Individual dengan Instalasi Pengolahan Air Gambut,
2. Untuk Komunal dengan Unit Paket, Instalasi Pengolahan Sederhana
Acuan yang dapat diterapkan
1. Spesifikasi Instalasi Cikapayang 5 L/det.
2. Spesifikasi dan Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi Penjernihan Air

Gambar 7 : Instalasi Pengolahan Air Gambut dan Unit Paket

Gambar 6 : Instalasi Saringan Pasir Lambat dan Instalasi Pengolahan Air Gambut Individual dan Tipe Cikapayang
5
3. Permasalahan
Air laut atau air payau yang mengandung kadar Chlor tinggi Teknologi Pengolahan Air :
-- Untuk 1 KK (5 jiwa) dgn Destilasi Surya Atap Kaca (DSAK)
- Untuk Komunal dengan Unit Paket Mobile
• Spesifikasi dan Tata Perencanaan Destilasi Surya Atap Kaca
• Tata Cara Perencanaan dan Operasi dan Pemeliharaan Unit Paket Mobile
4) Permasalahan
Air Tanah yang mengandung Fe dan Mn tinggi
Teknologi Pengolahan Air ::
- Untuk 1 Keluarga (5 jiwa) dengan Saringan Rumah Tangga ,
- Untuk Komunal dengan I nstalasi Pengolahan Air Sedehana dan Unit
Paket

Gambar 8 : Destilasi Surya Atap Kaca dan Unit Paket Mobile

Gambar 9 : Saringan Rumah Tangga dan Instalasi Tipe Cikapayang
6
Transmisi dan Distribusi
Air baku (AB) tidak selalu dapat diolah di lokasi sumber juga air hasil produksi tidak selalu langsung dapat didistribusikan karena letak daerah pelayanan tidak selalu langsung berhubungan dengan areal pengolahan .
Transmisi air dalam sistem penyediaan air minum dapat dibedakan antar :
- Transmisi Air Baku (AB), pemindahan
sejumlah Air Baku dari sumber ke
pengolahan air.
- Transmisi Air Minum (AM), pemindah-
an sejumlah AM dari akhir pengolahan
air ke awal distribusi/ reservoar dis-
tribusi (RD) , atau dari RD sampai ke
awal distribusi.
Distribusi air minum adalah air hasil pengolahan, didistribusikan ke area pelayanan melalui jaringan pipa sampai pada konsumen atau pelanggan.
Permasalahan
Transmisi dan Distribusi ini menyangkut perpipaan dan accesoriesnya mutunya rendah, standar yang berlaku.
1. Metode Pengujian Meter Air Bersih (Ukuran 13 mm s.d. 40 mm)
2. Spesifikasi Meter Air Bersih (Ukuran 13 mm s.d. 40 mm)
3. Spesifikasi dan Metode Pengujian Pipa PVC Bertekanan Diameter
110- 315 untuk Air Bersih
Pengelolaan / Manajemen
Permasalahan
Semua teknologi air bersih yang tidak dikelola dengan baik , cepat rusak 7

Gambar 11 : Hasil Pengujian pipa dan meter air

Gambar 10 : Transmisi Air Baku

Tata Cara dalam pengelolaan antara lain berikut ini :
- Tata Cara Pengoperasian dan Pe-
rawatan Instalasi Saringan Pasir
Lambat
- Tata Cara Pengoperasian dan
Pemeliharaan Unit Paket Instalasi
Penjernihan Air Kap. 5 L per detik,
- Juknis Penilaian Kinerja PDAM
Kebijakan Tindak Lanjut Penyehatan PDAM
1. REFEDINISI KELEMBAGAAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM
2. PENYELENGGARAAN AIR MINUM YANG BERTUMPU PADA PROFE-SIONALISME DAN PRINSIP KEUANGAN .
Meninjau kembali , memperbaiki dan memsosialisasikan Pedoman Penilaian Kinerja PDAM disertai dengan mekanisme reward dan punishmen 12345KLASIFIKASI PDAMKINERJA PDAM
Pelayanan
Sistem pelayanan air bersih dapat berupa :
a. Sambungan Langsung (SL) : pelayanan air bersih individual melalui sistem perpipaan.
b. Hidran Umum (HU) : pelayanan air bersih komunal melalui sistem perpipaan, dimana unit terdiri dari bak penampung air yang dilengkapi Kran

Gambar 12 : Unit Paket yang tidak berfungsi

Kondisi PDAM
1. Baik Sekali
2. Baik
3. Cukup
4. Kurang Baik
5. Tidak Baik
8
c. Kran umum (KU) : Pelayanan air bersih komunal melalui sistim perpipaan dimana unit terdiri dari satu pilar dengan kran air diatas permukaan tanah.
d. Terminal Air (TA) : untuk pemakaian komunal melalui mobil tangki atau seje-nisnya , unit terdiri dari bak penampung diatas permukaan tanah ,dan dilengkapi kran air.
NSPM dalam pelayanan ini antara lain :
- Spesifikasi Terminal Air, Hidran Umum ,
Kran Umum (TAHUKU)
Kemitraan
Dalam penerapan Teknologi air bersih dapat dengan kemitraan antara pemerintah dan pemberdayaan masyarakat, atau pemerintah dengan swasta antara lain melalui Usaha Kecil Menengah , hal ini juga harus mengikuti suatu SPM antara lain berikut ini : 11SosialisasiRembug Wargalokasi, perencanaan,pembangunan, pengelolaanPelatihanTeknik Operasional Pemda FasilitatorMonitoringPengelolaan
1. Kemitraan dengan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penyediaan Air Bersih
2. Kemitraan dengan Usaha Kecil Menengah dalam Memproduksi Prsarana dan Sarana Air Bersih dan pihak swasta
2. PEMBAHASAN
A. Bahan Materi
1. Spesifikasi Bak Penampung Air Hujan untuk Air Bersih dari Pasangan Batu bata , Pt S-05-2000 C dan Ferrocemen, Pt S-05-2000 C
2. Tata Cara Perencanaan Penampungan Air Hujan untuk Air Bersih,
3. Tata Cara Perencanaan Unit Paket Inst. Penjernihan Air, SNI 19-6774-2002
9
4. Tata Cara Pengoperasian dan Pemeliharaan Unit Paket Instalasi Penjernihan Air Kapasitas 5 L/detik keatas, SNI 19-6775-2002
5. Kemitraan melalui UKM dalam memproduksi Teknologi Air Bersih
1. Penampungan Air Hujan untuk Air Bersih
2. Unit Paket Instalasi Pengolahan Air
3. Perpipaan / Distribusi
4. Kemitraan melalui UKM
B. Bahasan
Pembahasan
1. Penampungan Air Hujan untuk Air Bersih :
Spesifikasi Bak Penampung Air Hujan untuk Air Bersih :
- Bentuk Bak bulat dan empat persegi
- Ukuran untuk Kapasitas : 2, 4, 6, 8, 10 m3
- Ukuran elemen bak penampung :
- Bahan untuk Pasangan batu bata dab Ferrocement dan Kebutuhan bahan
- Fungsi setiap komponen
- Kekuatan Struktur
- Cara operasi dan pemeliharaan
Tata Cara Perencanaan Penampungan Air Hujan untuk Air Bersih
- Syarat curah hujan minimum
- Perhitungan kapasitas penampungan
Penyimpangan di Lapangan :
- Aplikasi di lapangan tidak memakai saringan sehingga air tidak memenuhi syarat air bersih.
- Ukuran untuk 1 KK tidak mengikuti perencanaan sehingga sangat kurang dari kebutuhan dasar.
2. Paket Unit Intalasi Pengolahan Air
A Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi Pengolahan Air mencakup :
- Syarat kuantitas air tersedian sepanjang musim dan kualitas air baku yang dapat diolah utk kekeruhan < 300 NTU dan warna asli < 40 TCU dan warna sementara < 80 TCU
- Kriteria modul dan kompartemen
10
- Kriteria Perencanaan Unit Paket dan Dimensi
- Kriteria Perencanaan Pembubuhan Bahan Kimia
- Kriteria Perencanaan Pompa dan Catu Daya
- Kriteria Struktur Bangunan dan
- Cara pengerjaan dalam merencanakan
Penyimpangan
- Kualitas air baku yang diolah melebihi standar sehingga kemampuan unit paket efisiensinya berkurang
- Kriteria Perencanaan banyak tidak memenuhi syarat, sehingga pengolahan tidak optimal
B. Tata Cara Pengoperasian dan Pemeliharaan Unit Paket IPA
-
-
Penyimpangan :
- Unit paket IPA tidak mempunyai manual dari pemasok untuk operasi dan pemeliharaan dan dalam operasional tidak memenuhi tata cara yang ada sehingg peralatan banyak yang cepat rusak.
3. Pelaksanaan pemasangan pipa
- Persyaratan untuk mutu sebelum pelaksanaan tidak dilakukan pengujian
- Tidak mengikuti tata cara pelaksanaan pengawasan yang ada
11
Penyimpangan :
- Tidak dilaksanakannnya uji pipa dan accessories sehingga mutunya tidak terjamin
- Pengawasan yang dilakukan tidak memenuhi tata cara yang ada sehingga pekerjaan banyak yang tidak memenuhi persyaratan.
4. Kemitraan
1. Kemitraan yang bertumpu kepada pemberdayaan masyarakat 12

Program Pengembangan Teknologi Air Bersih Pedesaan melalui Peran Serta Masyarakat yang dilaksanakan oleh Puslitbang Permukiman

Sebelum Program Penyediaan Air Bersih Masyarakat mengambil Air berjalan kaki 700 m

Bangunan Penangkap Air Hasil dari Program Penyediaan Air Bersih Pedesaan

Pelaksanaan Program Penyediaan Air Bersih dilakukan oleh masyarakat Desa Sekejengkol

Sumber air baku potensial yang ada
di Desa Sekejengkol

Penampungan Air Bersih dirumah penduduk

2. Kemitraan melalui UKM dalam produksi prasarana dan sarana air bersih
Langkah : -Tahap Persiapan
-Sosialisasi Program
-Tahap Pelaksanaan
- Pemasaran
3. Kesimpulan
• Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan penerapan NSPM di lapangan;
• Advis teknis dibutuhkan setelah teridetifikasi permasalahan yang ada untuk pena-nganan yang diperlukan dan disesuaikan jenis NSPM ;
• Uji keandalan mutu diperlukan sebelum pelaksanaan hingga pengawasannya di lapangan.
LAMPIRAN
Daftar NSPM untuk Teknologi Air Bersih
13
No
Lingkup
Judul
Nomor NSPM
1
Sumber Air Baku
1. Spesifikasi Sumur Gali Untuk Sumber Air Bersih
2. Spesifikasi Bak Penampung Air Hujan untuk Air Bersih dari Pasangan Bata
3. Spesifikasi Bak Penampung Air Hujan untuk Air Bersih dari Ferrocement
4. Tata Cara Perencanaan Penam-pungan Air Hujan
5. Pemanfaatan Pompa Hidram Dalam Penyediaan Air Bersih Pt
6. Persyaratan Kualitas Air Baku untuk Air Minum
7. Pemb. Sumur Pompa Ta-ngan
8. Perlindungan Mata Air
SNI 03-2916-1992
Pt S-05-2000 C
Pt S-05-2000 C
T-11-2002-C
PP Men KLH
AB-D/LW/TC/002/98
AB-D/LW/TC/009/98
2
Pengolahan Air

1. Spesifikasi Instalasi air Minum Tipe Cikapayang 5
2. Tata Cara Perencanaan Instalasi Saringan Pasir Lambat.
3. Metode Pengujian Koagulasi Flo-kulasi dengan Cara Jar Test
4. Spesifikasi Poly Aluminium Chlo-rida Cair untuk Pengolahan Air
5. Spesifikasi Unit Paket Instalasi Penjernihan Air Sistem Konven-sional Dengan Struktur Baja
6. Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi Penjernihan Air
7. Tata Cara Pengewasan Pema-sangan Unit Paket Instalasi Penjernihan Air
8. Metode Pengujian Kinerja Unit Paket Instalasi Penjernihan Air
9. Spesifikasi Soda Abu Untuk Pengolahan Air
10. Sistem Penyediaan Air Bersih komersil di Lingk. Permu-kiman
11. Persyaratan Kualitas Air Minum
SNI 03-2917-1992
SNI 03-3981-1995
SNI 19-6449-2000
SNI 06-3822-2000
SNI 19-6773-2002
SNI 19-6774-2002
SNI 19-6776-2002
SNI 19-6777-2002
Pd S-01-2002
Pt T-14-2002-C
PP Menkes 90/2002
3
Distribusi

1. Metode Pengujian Meter Air Bersih (Ukuran 13 - 40 mm)
2. Metode Pengambilan Contoh Meter Air Bersih.
3. Spesifikasi Meter Air Bersih
(Ukuran 13 mm s.d. 40 mm)
4. Metode Pengujian Diameter Luar Pipa PVC untuk Air Minum De-ngan Jangka Sorong
5. Metode Pengujian Kekuatan Pipa PVC untuk Air Minum Ter-hadap Tekanan Hoidrostatik
6. Metode Pengujian Ketebalan Dinding Pipa PVC utk Air Minum
SNI 05-2418-1991
SNI 05-2419-1991
SNI 05-2547-1991
SNI 05-2548-1991
SNI 05-2549-1991
SNI 05-2550-1991

14

7. Metode Pengujian Bentuk dan Sifat Pipa PVC untuk Air Minum
8. Metode Pengambilan Contoh Pipa PVC
9. Metode Pengujian Perubahan Panjang Pipa PVC untuk Air Minum Dengan Uji Tungku
10. Metode Pengujian Ketahanan Pipa PVC untuk Air Minum Terhadap Metilen Chlorida
11. Metode Pengujian Kadar PVC Pada Pipa PVC untuk Air Minum Dengan THF
12. Metode Pengujian Diameter Luar Pipa PVC untuk Air Minum Dengan Pita Meter
13. Spesifikasi Pipa Polietilene (PE) Untuk Air Minum
14. Metode Pengujian Dimensi Pipa Polietilene (PE) Untuk Air Minum
15. Metode Pengujian Kinerja Pom-pa Dengan Menggunakan Model
16. Tata Cara Pengelasan Pipa Baja untuk Air di Lapangan
17. Spesifikasi Pipa PVC Bertekan-an Diameter 110-315 untuk Air Bersih
18. Metode Pengujian Sambungan Mekanik Pipa Polietilene (PE) pada Tekaanan Internal .
19. Metode Pengujiaan Perubahan Panjang Pipa PE
20. Metode Penentuan Densitas Re-ferensi PE Hitam dan PE tidak berwrna.
21. Metode Pengujian Kehilangan Tekanan pada Sistem Sam-bungan Meekanik Pipa PE.
22. Tata Cara Pemasangan Perpi-paan Besi Daktil dan Per-lengkapannya
23. Spesifikasi Pipa Resin Termo-setting
Bertekanan Berpenguat Fiber-Glass
SNI 05-2551-1991
SNI 05-2552-1991
SNI 05-2553-1991
SNI 05-2554-1991
SNI 05-2555-1991
SNI 05-2556-1991
SNI 06-4829-1998
SNI 06-4821-1998
SNI 05-6437-2000
SNI 03-6405-2000
SNI 03-6419-2000
SNI 19-6778-2002
SNI 19-6779-2002
SNI 19-6780-2002
SNI 19-6781-2002
SNI 19-6782-2002
SNI 19-6785-2002
4
Pengelolaan

1. Tata Cara Pengoperasian dan Perawatan Instalasi Saringan Pasir Lambat
2. Tata Cara Pengoperasian & Pe-meliharaan Unit Paket Instalasi Penjernihan Air Kap. 5 L/detik
SNI 03-6419-2000
SNI 19-6775-2002
5
Pelayanan
Penanganan air bersih dan PLP di pesantren
Pt T-18-2002-C
6
Kemitraan
Pemasyarakatan Produk Teknologi AB & PLP melalui UKM.
Juknis.

15

Kamis, 05 Juni 2008

Air dan Kualitas Air

Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Didalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80 %.

Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari.

Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu untuk keperluan minum (termasuk untuk masak) air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia.

Agar air minum tidak menyebabkan penyakit maka air tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan, setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut :

1. Syarat Fisik

Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.

2. Syarat Bakteriologis

Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.

3. Syarat Kimia

Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia. Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air yang ideal antara lain sebagai berikut :

--------------------------------------------------------------------
Jenis Bahan Kadar yang Dibenarkan (mg/liter)
--------------------------------------------------------------------
Fluor (F) 1-1,5
Chlor (Cl) 250
Arsen (As) 0,05
Tembaga (Cu) 1,0
Besi (Fe) 0,3
Zat organik 10
Ph (keasaman) 6,5-9,0
CO2 0
--------------------------------------------------------------------

Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.

Sumber-Sumber Air Minum

Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini, sebagai berikut :

1. Air Hujan

Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.

2. Air Sungai dan Danau

Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau ini. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.

3. Mata Air

Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.

4. Air Sumur Dangkal

Air ini keluar dari dalam tanah maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air didalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.

5. Air Sumur Dalam

Air ini berasal dari lapisan air kedua didalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).

Pengolahan Air Minum Secara Sederhana

Seperti telah disebutkan didalam uraian terdahulu bahwa air minum yang sehat harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung (protected) sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.

Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut :

1. Pengolahan Secara Alamiah

Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan (storage) dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya. Didalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.

2. Pengolahan Air dengan Menyaring

Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Lebih lanjut akan diuraikan kemudian. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.

3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia

Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya chlor).

4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara

Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.

5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih

Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni :

5.1 Pengolahan Air Minum untuk Umum

5.1.1 Penampungan Air Hujan

Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum.

Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.

5.1.2 Pengolahan Air Sungai

Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.

5.1.3 Pengolahan Mata Air

Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.

5.2 Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga

5.2.1 Air Sumur

Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.

Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut :
- Harus ada bibir sumur agar bila musim huujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke
dalamnya.
- Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari ppermukaan tanah harus ditembok, agar
air dari atas tidak dapat mengotori air sumur.
- Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bbawah sumur tersebut untuk mengurangi
kekeruhan.

Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).

Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.

5.2.2 Air Hujan

Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masing-masing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon (storage) untuk musim kemarau.

Update : 10 Juli 2006

Sumber :
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.

Air dan Kualitas Air

Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Didalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80 %.

Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari.

Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu untuk keperluan minum (termasuk untuk masak) air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia.

Agar air minum tidak menyebabkan penyakit maka air tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan, setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut :

1. Syarat Fisik

Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.

2. Syarat Bakteriologis

Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.

3. Syarat Kimia

Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia. Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air yang ideal antara lain sebagai berikut :

--------------------------------------------------------------------
Jenis Bahan Kadar yang Dibenarkan (mg/liter)
--------------------------------------------------------------------
Fluor (F) 1-1,5
Chlor (Cl) 250
Arsen (As) 0,05
Tembaga (Cu) 1,0
Besi (Fe) 0,3
Zat organik 10
Ph (keasaman) 6,5-9,0
CO2 0
--------------------------------------------------------------------

Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.

Sumber-Sumber Air Minum

Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini, sebagai berikut :

1. Air Hujan

Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.

2. Air Sungai dan Danau

Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau ini. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.

3. Mata Air

Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.

4. Air Sumur Dangkal

Air ini keluar dari dalam tanah maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air didalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.

5. Air Sumur Dalam

Air ini berasal dari lapisan air kedua didalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).

Pengolahan Air Minum Secara Sederhana

Seperti telah disebutkan didalam uraian terdahulu bahwa air minum yang sehat harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung (protected) sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.

Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut :

1. Pengolahan Secara Alamiah

Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan (storage) dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya. Didalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.

2. Pengolahan Air dengan Menyaring

Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Lebih lanjut akan diuraikan kemudian. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.

3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia

Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya chlor).

4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara

Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.

5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih

Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni :

5.1 Pengolahan Air Minum untuk Umum

5.1.1 Penampungan Air Hujan

Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum.

Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.

5.1.2 Pengolahan Air Sungai

Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.

5.1.3 Pengolahan Mata Air

Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.

5.2 Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga

5.2.1 Air Sumur

Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.

Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut :
- Harus ada bibir sumur agar bila musim huujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke
dalamnya.
- Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari ppermukaan tanah harus ditembok, agar
air dari atas tidak dapat mengotori air sumur.
- Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bbawah sumur tersebut untuk mengurangi
kekeruhan.

Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).

Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.

5.2.2 Air Hujan

Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masing-masing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon (storage) untuk musim kemarau.

Update : 10 Juli 2006

Sumber :
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.

Rabu, 04 Juni 2008

Prinsip Dasar Sistem Penyaluran Air Hujan


PENDAHULUAN


Bangunan yang dilengkapi dengan system plambing harus dilengkapi degan system drainase untuk pembuangan air hujan yang berasal dari atap maupun jalur terbuka yang mengalirkan air. Air hujan yang dibawa dalam system plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan. Hal ini karena tidak boleh air hujan disalurkan ke dalam system plambing air buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akan mengalir ke jalan umum, menyebabkan erosi atau genangan air. Bila terdapat system plambing air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka tidak dianjurkan untuk digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. Sistem plambing air hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi dengan perangkap untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari system tersebut.
Perangkap yang terpasang harus berukuran minimal sama dengan pipa mendatar yang terpasang bersama. Dan harus dilengkapi dengan pembersih di tiap ujungnya yang terletak di dalam gedung. Pada ujung dimana air masuk, harus dilengkapi dengan penahan kotoran agar system plambing air hujan tidak terganggu.

Gutter (talang atap) dan leader (talang tegak) air hujan digunakan untuk menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di atas tanah. Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran, umumnya ke permukaan tanah atau system drainase bawah tanah (underground drain). Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system saluran saniter. Talang tegak dapat ditempatkan di dalam ruangan (conductor) maupun di luar bangunan (leader).

UKURAN GUTTER & LEADER

Berdasarkan rekomendasi dari Copper & Brass Research Association beberapa prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran gutter & leader adalah :
1. Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya, untuk menghindari kemacetan aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya.
2. Jarak maksimum antar leader adalah 75 ft (22,86 m). Aturan yang paling aman adalah untuk 150 ft2 (13,94 m2) luas atap dibutuhkan 1 inci luas leader. Angka-angka tersebut dapat berubah akibat kondisi-kondisi local.
3. Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet, kemiringan atap dan bentuk gutter.
4. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari ¾ lebarnya.

Gutter berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang tepat antara kedalaman dan lebar gutter. Ukuran gutter tidak boleh lebih kecil dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci.

Tabel beban maksimum yang diijinkan untuk talang atap (untuk m2 luas atap).

Catatan :

Tabel ini berdasarkan curah hujan 100 mm/jam. Bila curah hujan lebih besar, nilai luas pada tabel tersebut di atas harus disesuaikan dengan cara mengalikan nilai tersebut dengan 10 lalu dibagi kelebihan curah hujan dalam mm/jam.

Pipa tegak air hujan yang tidak berbentuk pipa (silinder), maka dapat berbentuk lain asalkan pipa tersebut dapat mesuk ke dalam penampang bentuk lain tersebut. Talang atap yang tidak berbentuk setengah lingkaran harus mempunyai penampang luas yang sama.
Sumber : Pedoman Plambing Indonesia 1979


Perencanaan Sistem Penyaluran Air Hujan

§ Pembuangan air hujan gedung dan cabang-cabang mendatar
Ukuran saluran pembuangan air hujan gedung dan setiap pipa cabang datarnya dengan kemiringan 4 % atau lebih kecil harus didasarkan atas jumlah daerah drainase yang dilayaninya sesuai table di atas. Direncanakan pipa pembuangan air hujan dan cabang-cabang mendatarnya memiliki kemiringan 2 %.

§ Drainase bawah tanah
Ukuran pipa drainase bawah tanah yang dipasang di bawah lantai atau di sekeliling tembok luar gedung harus ≥ 4 inci.

§ Talang tegak air hujan
Ukuran talang tegak didasarkan pada luas atap yang dilayaninya dan sesuai table di atas. Bila atap tersebut dapat tambahan air hujan harus ditambah dengan perhitungan 50% luas dinding terluas yang dianggap sebagai atap.


DRAINASE GEDUNG
Setiap gedung yang direncanakan harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman (dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota.

Pengaliran Air Hujan Dengan 2 Cara

1. Sistem Gravitasi
Melalui pipa dari atap dan balkon menuju lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota

2. Sistem Bertekanan (Storm Water)
Air hujan yang masuk ke lantai basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran kota.

Peralatan Sistem Drainase dan Air Hujan

1. Pompa Drainase (Storm Water Pump)
Pompa drainase berfungsi untuk memompakan air dari bak penampungan sementara menuju saluran utama bangunan. Pompa yang digunakan adalah jenis submersible pump (pompa terendam) dengan system operasi umumnya automatic dengan bantuan level control yang ada di pompa dan system parallel alternate.

2. Pipa Air Hujan
Pipa air hujan berfungsi untuk mengalirkan air hujan dari atap menuju riol bangunan. Bahan yang dipakai adalah PVC klas 10 bar.

3. Roof Drain
Roof Drain berfungsi sama dengan floor drain, hanya penempatannya di atap bangunan dan air yang dialirkan adalah air hujan. Bahan yang dipakai adalah cast iron dengan diberi saringan berbentuk kubah di atasnya

4. Balcony DrainBerfungsi sama seperti roof drain, hanya penempatannya pada balkon

Selasa, 03 Juni 2008

Menanam Harapan di Lahan Bekas Telaga

Kompas Selasa, 24 Juli 2007 Oleh Defri Werdiono

Sesekali terseok, Adi Rubiyo (47), Supan (65), dan Marto Ngadiyo (60) berjalan beriringan menyusuri pematang sempit. Kecuali Supan yang menjinjing satu ember kecil berisi air, Adi dan Marto lebih memilih memikul dua ember dengan ranting pohon akasia.

Bersama 50-an orang lainnya, warga RT 02, Dusun Serpeng II, Pacarejo, Semanu, Gunung Kidul, itu sibuk menyirami tanaman jagung berumur 33 hari di lahan seluas sekitar satu setengah hektar di pinggiran dusun. Lahan tersebut merupakan salah satu dari dua Telaga Sri Lulut yang telah mengering akibat kemarau.

Laki-laki dan perempuan, dewasa maupun anak-anak, berusaha mengambil air dari telaga di sisi timur yang masih berair untuk kemudian dibawa ke telaga di sisi barat yang dipenuhi jagung. Kedua telaga yang berbeda luasan itu hanya dipisahkan oleh jalan terjal yang menghubungkan dusun mereka dengan Ibu Kota Gunung Kidul di Wonosari.

Peralatan siram yang mereka gunakan juga seadanya. Ada yang memanfaatkan ember plastik, kaleng bekas cat, jeriken bekas oli, hingga ember khusus untuk air yang terbuat dari seng. Tidak tampak sedikit pun lelah di wajah-wajah orang desa itu meski dua jam berlalu. Yang terdengar hanya canda disertai celoteh-celoteh nakal menggoda teman yang lain.

"Ini kegiatan menyiram bersama untuk yang keempat kalinya. Hanya dua kelompok masyarakat yang terlibat. Kelompok yang lainnya bergantian, mungkin besok," ujar Rubiyo. Karena umur jagung masih muda, diperlukan penyiraman dua kali dalam seminggu.
Begitulah, mulai tahun ini warga di tiga dusun, yakni Serpeng I, Serpeng II, dan Serpeng III, terlibat dalam sebuah kegiatan bersama. Mereka memanfaatkan salah satu telaga yang kering untuk menanam palawija. Hasil panen akan dikumpulkan ke pedukuhan untuk dimanfaatkan bersama oleh warga.

Lahan berupa cekungan tanah yang tak lain dasar telaga itu pun terbagi dalam 13 blok kecil. Jumlah ini sesuai banyaknya RT yang ada di tiga dusun tersebut. Setiap blok dikelola warga dalam satu RT yang berjumlah 20-25 kepala keluarga.

"Kami hanya menyediakan tenaga. Menanam bibit dilakukan bersama- sama, demikian pula memupuk hingga panen nanti. Sejauh ini masing- masing warga baru mengeluarkan uang Rp 1.000 untuk urunan beli pupuk kimia. Sebelumnya sudah diberi pupuk kandang, juga berasal dari ternak warga," tutur Supan.

Harapan Supan dan warga lain ialah kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai tahun ini saja, tetapi bisa berlanjut untuk masa yang akan datang. Kearifan lokal seperti ini sangat bermanfaat untuk menyikapi kondisi alam yang serba terbatas. Di satu sisi warga berusaha memanfaatkan telaga yang beberapa tahun terakhir lebih cepat menyusut, di sisi lain mereka secara guyub rukun bekerja sama untuk kebutuhan hari depan.

"Misalnya, kalau nanti kami butuh pembangunan jalan atau penerangan, maka uang hasil panenan itu yang akan digunakan. Ini pokoknya dipakai untuk keperluan bersama," kata Supan.
Cukup banyak

Jumlah telaga yang tidak berair saat musim kemarau di Gunung Kidul memang cukup banyak. Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan setempat mencatat, dari 282 buah telaga yang ada, 217 di antaranya kering saat musim kemarau. Telaga yang mengalami pendangkalan ada 252 dan tersebar di beberapa kecamatan, terutama di wilayah selatan.

Faktor penyebab kerusakan telaga juga bermacam-macam, mulai dari erosi, sedimentasi, hingga rusaknya daerah tangkapan air. Daerah sekitar telaga yang berupa batuan karst mudah lapuk akibat cuaca. Hasil pelapukan ini kemudian terbawa oleh air hujan dan terendapkan di dasar telaga.

Rusaknya vegetasi juga membuat permukaan telaga makin terbuka. Akibatnya, panas matahari dalam jangka waktu lama akan memicu terjadinya penguapan yang cukup besar. Di kabupaten ini ada 165 telaga yang mengalami kerusakan pada daerah tangkapannya.

Tidak jauh dari Gunung Kidul, di Kabupaten Bantul upaya warga memanfaatkan lahan di dekat aliran air juga terjadi. Parminto (66), misalnya, ia sengaja mengayunkan cangkul di tanah lempung berpasir di tepi Kali Opak. Ia berharap, benih-benih jagung yang disebarnya dapat tumbuh subur dan menghijaukan permukaan tepi sungai yang tiap hari semakin terlihat gersang. (YOP)

Senin, 02 Juni 2008

Panen Air Hujan

PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN DAN PEMANENAN AIR
HUJAN SEBAGAI WUJUD PERAN SERTA MASYARAKAT
DALAM PENGENDALIAN BANJIR
Ahmad Tusi 4)

ABSTRAKSI

Staf Pengajar Jurusan Teknik Pertanian Universitas Lampung
Permasalahan lingkungan yang sering dijumpai di negara kita pada saat ini
adalah terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim
kemarau. Selain itu, terjadi pula penurunan permukaan airtanah di beberapa
tempat. Hal ini disebabkan adanya penurunan kemampuan tanah untuk
meresapkan air sebagai akibat adanya peruhahan lingkungan yang m erupakan
dampak dari proses pembangunan.

Salah satu upaya untuk r:neningkatkan kemampuan tanah meresapkan air
hujan ialah pembuatan sumur resapan dan pemanenan air hujan. Dengan
sumur resapan air hujan akan ditampung dan diresapkan ke dalam tanah
sehingga dapat mengurangi aliran permukaan (run off) dan memperbaiki
permukaan tanah. Pembuatan instalasi pemanenan air hujan akan membantu
masyarakat perkotaan untuk menggumakan alternatif air yang lebih bersih dari
pada menggunakan airtanah dan air permukaan yang telah tercemar oleh
limbah domestik dan industri, serta bakteri coli. Manfaat yang dapat
diharapkan akan diperoleh melalui pembuatan sumur resapan dam pemanenan
air hujan ini, yaitu pemenuhan kebutuhan air sekunder dan memperkecil beban
drainase mikro maupun makro.

Kala Kunci: banjir, kekeringan, aliran permukaan, sumur resapan,pemanenan
air hujan.

I. PENDAHULUAN

Air adalah unsur kehidupan utama bagi umat manusia. Tetapi air juga dapat mcnjadi
musuh dahsyat bagi manusia bila tidak ditata dengan baik sebagaimana dialami oleh
banyak negara di dunia ini, termasuk Indonesia. Permasalahan lingkungan yang
sering dijumpai di negara kita pada saat ini adalah terjadinya banjir pada musim
hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Air hujan tidak dapat mengalir oleh karena tidak beri cukup peluang, misalnya oleh
urugan dan pembangunan pada alur-alur air (sungai), urugan pada cekungan tanah
dalam dimana air dapat terkumpul (rawa, situ), dan pembuatan sudctan-sudetan
sebagai langkah darurat. Dan berbagai macam penyebab lain, ditambah lagi dengan
genangan yang diakibatkan oleh hujan di kota itu sendiri yang tidak diberi alur-alur
pembuangan (drainase) atau prasarana pembuangannya tidak memadai atau tidak
terpelihara dengan baik. Maka sebagai akibat dari semua faktor ini, maka elevasi air
meningkat dan air banjir melewati tanggul-tanggul saluran drainase. Peningkatan
elevasi muka air ini bahkan dapat merambat ke arah hulu dan melimpah ke wilayah
yang lebih tinggi dari hilir akibat efek back water.

Besar banjir yang terjadi tergantung dari besarnya curah hujan di suatu daerah,
topografi, dan wujud dari wilayah, yang dilalui banjir sebelum air sampai dan meluap
di daerah hilir yang merupakan daerah yang relatif landai, seperti DKI Jakarta.
Seringkali kelandaian suatu wilayah disebut sebagai salah satu penyebab terjadinya
banjir dimana-mana. Ini memang benar, akan tetapi justru karena kelandaian itulah
kita harus lebih cermat dalam membuat sarana-sarana pengaturan dan pengendalian
air serta dalam pembangunan pada umumnya.

Wujud upaya untuk membantu pengendalian banjir dan sekaligus mencakup
memperbaiki (konservasi) airtanah, serta menekan laju erosi. Upaya yang dapat
dilakukan adalah pembuatan sumur resapan yang belum maksimal pembauatannya di
daerah perkotaan dan pedesaan dan pemanfaatan langsung air hujan, yang sebenarnya
merupakan sumber air yang relatif lebih baik dibandingkan dengan sumber air
permukaan maupun airtanah dan tersedia dalam jumlah yang cukup.
Upaya konservasi yang dilakukan tersebut diharapkan secara tidak langsung akan
membantu Pemerintah Daerah (Pemda) setempat dalam mengatasi permasalahan
yang diakibatkan oleh banjir dan kekeringan.

II. SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN

Munculnya konsepsi untuk menadah air hujan dan meresapkannya ke dalam lapisan
tanah, segera mendapat sambutan positif dari segenap praktisi lingkungan, dan
mendapat sebutan Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan. Saat ini drainase, tidak
hanya berfungsi untuk membebaskan daerah perkotaan dari serangan banjir, tetapi
juga bertugas mengatasi pencemaran air tanah.

Salah satu sistem drainase berwawasan lingkungan untuk pengendalian air, baik
mengatasi banjir dan kekeringan adalah melalui sumur resapan. Sumur resapan
merupakan upaya memperbesar resapan air hujan ke dalam tanah dan memperkecil
aliran permukaan sebagai penyebab banjir.

Upaya ini akan berfungsi bila semua warga masyarakat sadar dan mau
menerapkannya. Peran sumur resapan akan tidak berarti bila hanya beberapa
pcnduduk saja yang menerapkan. Dapat dibayangkan bila setiap penduduk suatu
kawasan yang memiliki sejuta bangunan mampu menerapkan sumur resapan.
Masing-masing mampu meresapkan air satu kubik. Dengan demikian sejuta kubik air
akan masuk ke dalam tanah. Kawasan terse but dapat terhindar dari bahaya banjir
dan mampu mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau.
Beberapa manfaat sumur resapan, antara lain:

1) Pengendali banjir, banyak aliran permukaan yang dapat dikurangi melalui sumur
resapan tergantung volume dan jumlah sumur resapan. Misalnya, sebuah kawasan
yang jumlah rumahnya 1.000 buah, kalau masing-masing rumah membuat sumur
resapan dengan volume 2 m3 berarti dapat mengurangi aliran permukaan sebesar
2.000 m3 air.

2) Konservasi airtanah, peresapan air mclalui sumur resapan sangat penting
mcngingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi
dari perkembangan pcnduduk dan perekonomian masyarakat. Perubahan tata guna
tanah tersebut akan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Hal ini
mengingat semakin banyak tanah yang tertutupi oleh tembok, beton, aspal, dan
bangunan lainnya yang tentunya berdampak meningkatnya laju aliran permukaan.
Penutupan permukaan tanah oleh permukiman dan fasilitas umum besar dampaknya
bagiannya, berarti setiap kali turun hujan 30 mm akan ada 225.000 m3 air hujan yang
tidak dapal meresap ke dalam tanah. Jumlah ini akan berkumpul dcngan aliran
permukaan dari kawasan lain pada lahan yang rendah sehingga dapat
mengakibatkan banjir.

3) Menekan laju erosi, dengan adanya penurunan aliran pcrmukaan maka laju erosi
pun akan menurun. Apabila aliran permukaan menurun, tanah-tanah yang
tergerus dan terhanyut pun akan berkurang. Dampaknya, aliran permukaan air
hujan kecil dan erosi pun akan kecil.

Dalam rencana pembuatan sumur resapan perlu dipertimbangkan faktor iklim,
kondisi airtanah, kondisi tanah, tata guna tanah, dan kondisi sosial ekonomi
masyarakat. Faktor Iklim yang perlu dipertimbangkan adalah besarnya curah hujan,
semakin besar curah hujan di suatu wilayah berarti semakin besar sumur resapan
yang diperlukan. Kondisi permukaan airtanah yang dalam, sumur resapan perlu
dibuat secara besar-besaran karena tanah benar-benar memerlukan suplai air melalui
sumur resapan. . Sebaliknya pada lahan yang muka airnya dangkal, sumur resapan ini
kurang efektif dan tidak akan berfungsi dengan baik. Terlebih pada daerah rawa dan
pasang surut, karena daerah ini memerlukan saluran drainase.

Kondisi tanah sangat berpengaruh pada besar kecilnya daya resap tanah terhadap air
hujan. Tanah berpasir dan porus lebih mampu merembeskan air hujan dengan cepat.
Tabel 1 menyajikan hubungan antara beberapa tipe tekstur tanah dengan kecepatan
infiltrasi.
Tabel 1. Hubungan Kecepatan Intiltrasi dan Tekstur Tanah.
Tekstur Tanah Kecepatan Infiltrasi (mm/jam) Kriteria
Pasir berlempung 25 - 50 Sangat cepat
Lempung 12,5 - 25 Cepat
Lempung berdebu 7,5 - 15 Sedang
Lempung berliat 0,5- 2,5 Lambat
Liat < 0,5 Sangat lambat
Sumber : Sitanala Arsyad, 1976.

Tataguna tanah akan berpengaruh terhadap porsentase air yang meresap ke dalam
tanah dengan aliran permukaan. Lahan yang penduduknya padat dan banyak
bangunan, sumur resapan harus dibuat lebih banyak dan lebih besar volumenya. Baik
dengan sumur resapan individual atau dengan sumur resapan secara kolektif untuk
beberapa rumah. Program pelestarian air melalui sumur resapan harus ditempuh
melalui pendekatan sosial ekonomi kemasyarakatan dan sosial budaya. Misalnya,
dalam rangka meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya
pelestarian lingkungan, khususnya penerapan sumur resapan, dengan penyuluhanpenyuluhan
intensif melalui metoda yang sesuai dengan kehidupan masyarakat
tersebut.

III. UPAYA PEMANENAN AIR HUJAN

Upaya pemanenan air hujan di Indonesia selama ini hanya dikenal di kawasankawasan
di mana pemanfaatan air permukaan maupun airtanah kurang
memungkinkan. atau memerlukan upaya pemompaan airtanah dalam.
Semestinya. sebagai sumber air yang relatif kualitasnya masih jauh lebih baik dari air
permukaan dan airtanah untuk kawasan di jabodetabek. yang mcnurut beberapa
penelitian terkini dinyatakan sudah mulai tercemar bakteri coli. dapat dimanfaatkan
dengan sistmm pemanenan air hujan yang sudah banyak diterapkan di negara-negara
lain.

Kontribusi yang mampu diberikan oleh sebuah sistem pemanenan air hujan bagi
masyarakat, dengan asumsi sebagai berikut :

1) Setiap kepala keluarga (KK) rata-rata terdiri dari 4 jiwa
2) Menggunakan data hujan daerah Dramaga, Bogor untuk curah hujan jam-jaman
dari tahun 1985 - 2002. Intensitas hujan jam-jaman tersebut dipresentasikan
dalam bentuk rumus intensitas hujan dengan perioda ulang 5 tahunan, yaitu : I =
9.497,072 / ( 43,101 + t ); dimana I = intensitas hujan (mm/jam) dan t : waktu
konsentrasi (mcnit) ( Ahmad Tusi, 2003).
3) Jumlah rumah permanen di Dramaga 10.194 unit dcngan total luas daerah 24,06 ha.
(Sumber: Kantor Pemberdayaan Masyarakat, 2001).
Maka kepadatan rumah per ha adalah 423 rumah/ha. Rata-rata tipe rumah dalam 1
ha lahan adalah Tipe 21.
4) Kebutuhan air untuk Tipe rumah 21 adalah 60 l/hari/orang.
5) Atap rumah dengan sudut kemiringan 45 derajat dan panjang_kemiringan 5,648 m.
Waktu limpas permukaan (to) dari atap sebesar 1 menit dengan koefisien pengaliran
0,90 dan koefisien retensi (Cs) 0,8 (Hindarko,2000). Bila kecepatan di dalam talang
air adalah 0,05 m/detik, maka:
waktu limpas saluran (tu) = panjang talang / kecepatan = 6 /0,05 = 120 detik = 2 menit.
Waktu konsentrasi (tc) = to + td = 1 + 2 = 3 menit. .
Intensitashujan =9.497,072/(43,101 +t) = 9.497,101 /(43,101 +3)
= 206 mm/jam.
Luas atap = A = 5,648 x 6 =; 33,89 m2 = 0,003389 ha
Maka Q = 0,00278 x Cs x C x I x A = 0,00278 x 0,8 x 0,9 x 206 x 0,003389
= 0,001397 m3/det.
Rata-rata hujan di daerah Dramaga minimal berlangsung selama 10 menit atau 600
detik dalam sehari, jika peluang kejadian hujan dalam sebulan 60 % dan perhitungan
kinerja pemanenan hujan selama musim hujan saja (6 bulan), maka limpasan hujan
yang mampu ditampung adalah:
Volume = 0,001397 m3/det x 600 det x (6 bln x 60 % x 30 hari/bln)
= 90,5 m3 .= 90.500 liter (selama musim hujan)
Kebutuhan air dalam 1 rumah ( 1 KK) dengan 4 orang jiwa adalah kebutuhan air
selama musim hujan = 1 rumah x 4 orang/rumah x 60 l/hari/orang x (6 bln x 30
hari/bln) = 43.200 liter selama musim hujan). Jadi ada kelebihan air hasil pemanenan
air hujan selama musim hujan sebesar 47.300 liter. Kelebihan ini bisa dipergunakan
untuk mengahadapi musim kemarau dan kebutuhan sekunder lainnya, scperti :
pertanian, berternak, dll.

Dari deskripsi mengenai pemanenan air hujan di atas, bahwa ada potensi yang cukup
besar dari upaya pemanenan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat
dan diharapkan dapat mengurangi laju air limpasan yang terjadi di permukaan lahan,
erosi, dan bahkan untuk mengendalikan banjir pada musim penghujan.

IV. SIMPULAN DAN SARAN

1. Pengembangan sumur resapan dapat membantu meredam puncak banjir dari
daerah tangkapannya, apabila semua warga masyarakat sadar dan mau
menerapkannya. Peran sumur resapan akan tidak berarti bila hanya beberapa
penduduk saja yang menerapkan. Oleh karena perlu adanya program pelestarian
air dengan Sumur resapan dengan pendekatan sosial kcmasyarakatan dan budaya
masyarakat setempat.

2. Upaya pemanenan air hujan perlu ditindak-lanjuti dengan kajian yang 1ebih
mendalam, mengingat berdasarkan perhitungan yang sudah di1akukan. hal ini
cukup memberikan harapan.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 1976. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu Tanah. IPB. Bogor.
Hindarko, S. 2000. Drainase Perkotaan. Penerbit ES-HA. Jakarta.
Kusnadi. 2000. Sumur Resapan Untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Soehoed, A.R. 2002. Banjir Ibukota : Tinjauan Historis & Pandangan ke Depan.
Penerbit Djambatan. Jakarta.
Tusi, A. 2003. Rancangan Sistem Drainase Di Areal Parkir Graha Widya WisudaKampus IPB Dramaga, Bogor. Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian-Fateta IPB. Bogor.