Selasa, 03 Juni 2008

Menanam Harapan di Lahan Bekas Telaga

Kompas Selasa, 24 Juli 2007 Oleh Defri Werdiono

Sesekali terseok, Adi Rubiyo (47), Supan (65), dan Marto Ngadiyo (60) berjalan beriringan menyusuri pematang sempit. Kecuali Supan yang menjinjing satu ember kecil berisi air, Adi dan Marto lebih memilih memikul dua ember dengan ranting pohon akasia.

Bersama 50-an orang lainnya, warga RT 02, Dusun Serpeng II, Pacarejo, Semanu, Gunung Kidul, itu sibuk menyirami tanaman jagung berumur 33 hari di lahan seluas sekitar satu setengah hektar di pinggiran dusun. Lahan tersebut merupakan salah satu dari dua Telaga Sri Lulut yang telah mengering akibat kemarau.

Laki-laki dan perempuan, dewasa maupun anak-anak, berusaha mengambil air dari telaga di sisi timur yang masih berair untuk kemudian dibawa ke telaga di sisi barat yang dipenuhi jagung. Kedua telaga yang berbeda luasan itu hanya dipisahkan oleh jalan terjal yang menghubungkan dusun mereka dengan Ibu Kota Gunung Kidul di Wonosari.

Peralatan siram yang mereka gunakan juga seadanya. Ada yang memanfaatkan ember plastik, kaleng bekas cat, jeriken bekas oli, hingga ember khusus untuk air yang terbuat dari seng. Tidak tampak sedikit pun lelah di wajah-wajah orang desa itu meski dua jam berlalu. Yang terdengar hanya canda disertai celoteh-celoteh nakal menggoda teman yang lain.

"Ini kegiatan menyiram bersama untuk yang keempat kalinya. Hanya dua kelompok masyarakat yang terlibat. Kelompok yang lainnya bergantian, mungkin besok," ujar Rubiyo. Karena umur jagung masih muda, diperlukan penyiraman dua kali dalam seminggu.
Begitulah, mulai tahun ini warga di tiga dusun, yakni Serpeng I, Serpeng II, dan Serpeng III, terlibat dalam sebuah kegiatan bersama. Mereka memanfaatkan salah satu telaga yang kering untuk menanam palawija. Hasil panen akan dikumpulkan ke pedukuhan untuk dimanfaatkan bersama oleh warga.

Lahan berupa cekungan tanah yang tak lain dasar telaga itu pun terbagi dalam 13 blok kecil. Jumlah ini sesuai banyaknya RT yang ada di tiga dusun tersebut. Setiap blok dikelola warga dalam satu RT yang berjumlah 20-25 kepala keluarga.

"Kami hanya menyediakan tenaga. Menanam bibit dilakukan bersama- sama, demikian pula memupuk hingga panen nanti. Sejauh ini masing- masing warga baru mengeluarkan uang Rp 1.000 untuk urunan beli pupuk kimia. Sebelumnya sudah diberi pupuk kandang, juga berasal dari ternak warga," tutur Supan.

Harapan Supan dan warga lain ialah kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai tahun ini saja, tetapi bisa berlanjut untuk masa yang akan datang. Kearifan lokal seperti ini sangat bermanfaat untuk menyikapi kondisi alam yang serba terbatas. Di satu sisi warga berusaha memanfaatkan telaga yang beberapa tahun terakhir lebih cepat menyusut, di sisi lain mereka secara guyub rukun bekerja sama untuk kebutuhan hari depan.

"Misalnya, kalau nanti kami butuh pembangunan jalan atau penerangan, maka uang hasil panenan itu yang akan digunakan. Ini pokoknya dipakai untuk keperluan bersama," kata Supan.
Cukup banyak

Jumlah telaga yang tidak berair saat musim kemarau di Gunung Kidul memang cukup banyak. Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan setempat mencatat, dari 282 buah telaga yang ada, 217 di antaranya kering saat musim kemarau. Telaga yang mengalami pendangkalan ada 252 dan tersebar di beberapa kecamatan, terutama di wilayah selatan.

Faktor penyebab kerusakan telaga juga bermacam-macam, mulai dari erosi, sedimentasi, hingga rusaknya daerah tangkapan air. Daerah sekitar telaga yang berupa batuan karst mudah lapuk akibat cuaca. Hasil pelapukan ini kemudian terbawa oleh air hujan dan terendapkan di dasar telaga.

Rusaknya vegetasi juga membuat permukaan telaga makin terbuka. Akibatnya, panas matahari dalam jangka waktu lama akan memicu terjadinya penguapan yang cukup besar. Di kabupaten ini ada 165 telaga yang mengalami kerusakan pada daerah tangkapannya.

Tidak jauh dari Gunung Kidul, di Kabupaten Bantul upaya warga memanfaatkan lahan di dekat aliran air juga terjadi. Parminto (66), misalnya, ia sengaja mengayunkan cangkul di tanah lempung berpasir di tepi Kali Opak. Ia berharap, benih-benih jagung yang disebarnya dapat tumbuh subur dan menghijaukan permukaan tepi sungai yang tiap hari semakin terlihat gersang. (YOP)

0 komentar:

Posting Komentar

Kontak Kami

Info lebih lanjut bisa menghubungi www.thetrekkers.com


Toko dan Kantor www.thetrekkers.com

Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 9

(2 Km di sebelah Utara Hotel Hyatt)

Kamdanen, Sarihardjo, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Telp +62-812-276-5434

SMS Hotline + WhatsApp : +62-812-276-5434

Email : ferriisk@yahoo.com - ferriisk@thetrekkers.com

Facebook : www.facebook.com/thetrekkers Twitter : @thetrekkerscom

Youtube : http://www.youtube.com/thetrekkersjogja


Produk dan ide-ide kami bisa juga dilihat di :


www.thetrekkers.com

Blog http://blog.thetrekkers.com/


http://tenda.thetrekkers.com/


http://perahualuminium.thetrekkers.com/


http://tangkiair.thetrekkers.com/


http://toiletportable.thetrekkers.com/


http://drybag.thetrekkers.com/


http://tasp3k.thetrekkers.com/


http://sepatu.thetrekkers.com

http://perahukaret.thetrekkers.com

http://mainanair.thetrekkers.com/


http://wisata.thetrekkers.com/


http://perahu.thetrekkers.com/