Senin, 02 Juni 2008

Panen Air Hujan

PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN DAN PEMANENAN AIR
HUJAN SEBAGAI WUJUD PERAN SERTA MASYARAKAT
DALAM PENGENDALIAN BANJIR
Ahmad Tusi 4)

ABSTRAKSI

Staf Pengajar Jurusan Teknik Pertanian Universitas Lampung
Permasalahan lingkungan yang sering dijumpai di negara kita pada saat ini
adalah terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim
kemarau. Selain itu, terjadi pula penurunan permukaan airtanah di beberapa
tempat. Hal ini disebabkan adanya penurunan kemampuan tanah untuk
meresapkan air sebagai akibat adanya peruhahan lingkungan yang m erupakan
dampak dari proses pembangunan.

Salah satu upaya untuk r:neningkatkan kemampuan tanah meresapkan air
hujan ialah pembuatan sumur resapan dan pemanenan air hujan. Dengan
sumur resapan air hujan akan ditampung dan diresapkan ke dalam tanah
sehingga dapat mengurangi aliran permukaan (run off) dan memperbaiki
permukaan tanah. Pembuatan instalasi pemanenan air hujan akan membantu
masyarakat perkotaan untuk menggumakan alternatif air yang lebih bersih dari
pada menggunakan airtanah dan air permukaan yang telah tercemar oleh
limbah domestik dan industri, serta bakteri coli. Manfaat yang dapat
diharapkan akan diperoleh melalui pembuatan sumur resapan dam pemanenan
air hujan ini, yaitu pemenuhan kebutuhan air sekunder dan memperkecil beban
drainase mikro maupun makro.

Kala Kunci: banjir, kekeringan, aliran permukaan, sumur resapan,pemanenan
air hujan.

I. PENDAHULUAN

Air adalah unsur kehidupan utama bagi umat manusia. Tetapi air juga dapat mcnjadi
musuh dahsyat bagi manusia bila tidak ditata dengan baik sebagaimana dialami oleh
banyak negara di dunia ini, termasuk Indonesia. Permasalahan lingkungan yang
sering dijumpai di negara kita pada saat ini adalah terjadinya banjir pada musim
hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Air hujan tidak dapat mengalir oleh karena tidak beri cukup peluang, misalnya oleh
urugan dan pembangunan pada alur-alur air (sungai), urugan pada cekungan tanah
dalam dimana air dapat terkumpul (rawa, situ), dan pembuatan sudctan-sudetan
sebagai langkah darurat. Dan berbagai macam penyebab lain, ditambah lagi dengan
genangan yang diakibatkan oleh hujan di kota itu sendiri yang tidak diberi alur-alur
pembuangan (drainase) atau prasarana pembuangannya tidak memadai atau tidak
terpelihara dengan baik. Maka sebagai akibat dari semua faktor ini, maka elevasi air
meningkat dan air banjir melewati tanggul-tanggul saluran drainase. Peningkatan
elevasi muka air ini bahkan dapat merambat ke arah hulu dan melimpah ke wilayah
yang lebih tinggi dari hilir akibat efek back water.

Besar banjir yang terjadi tergantung dari besarnya curah hujan di suatu daerah,
topografi, dan wujud dari wilayah, yang dilalui banjir sebelum air sampai dan meluap
di daerah hilir yang merupakan daerah yang relatif landai, seperti DKI Jakarta.
Seringkali kelandaian suatu wilayah disebut sebagai salah satu penyebab terjadinya
banjir dimana-mana. Ini memang benar, akan tetapi justru karena kelandaian itulah
kita harus lebih cermat dalam membuat sarana-sarana pengaturan dan pengendalian
air serta dalam pembangunan pada umumnya.

Wujud upaya untuk membantu pengendalian banjir dan sekaligus mencakup
memperbaiki (konservasi) airtanah, serta menekan laju erosi. Upaya yang dapat
dilakukan adalah pembuatan sumur resapan yang belum maksimal pembauatannya di
daerah perkotaan dan pedesaan dan pemanfaatan langsung air hujan, yang sebenarnya
merupakan sumber air yang relatif lebih baik dibandingkan dengan sumber air
permukaan maupun airtanah dan tersedia dalam jumlah yang cukup.
Upaya konservasi yang dilakukan tersebut diharapkan secara tidak langsung akan
membantu Pemerintah Daerah (Pemda) setempat dalam mengatasi permasalahan
yang diakibatkan oleh banjir dan kekeringan.

II. SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN

Munculnya konsepsi untuk menadah air hujan dan meresapkannya ke dalam lapisan
tanah, segera mendapat sambutan positif dari segenap praktisi lingkungan, dan
mendapat sebutan Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan. Saat ini drainase, tidak
hanya berfungsi untuk membebaskan daerah perkotaan dari serangan banjir, tetapi
juga bertugas mengatasi pencemaran air tanah.

Salah satu sistem drainase berwawasan lingkungan untuk pengendalian air, baik
mengatasi banjir dan kekeringan adalah melalui sumur resapan. Sumur resapan
merupakan upaya memperbesar resapan air hujan ke dalam tanah dan memperkecil
aliran permukaan sebagai penyebab banjir.

Upaya ini akan berfungsi bila semua warga masyarakat sadar dan mau
menerapkannya. Peran sumur resapan akan tidak berarti bila hanya beberapa
pcnduduk saja yang menerapkan. Dapat dibayangkan bila setiap penduduk suatu
kawasan yang memiliki sejuta bangunan mampu menerapkan sumur resapan.
Masing-masing mampu meresapkan air satu kubik. Dengan demikian sejuta kubik air
akan masuk ke dalam tanah. Kawasan terse but dapat terhindar dari bahaya banjir
dan mampu mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau.
Beberapa manfaat sumur resapan, antara lain:

1) Pengendali banjir, banyak aliran permukaan yang dapat dikurangi melalui sumur
resapan tergantung volume dan jumlah sumur resapan. Misalnya, sebuah kawasan
yang jumlah rumahnya 1.000 buah, kalau masing-masing rumah membuat sumur
resapan dengan volume 2 m3 berarti dapat mengurangi aliran permukaan sebesar
2.000 m3 air.

2) Konservasi airtanah, peresapan air mclalui sumur resapan sangat penting
mcngingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi
dari perkembangan pcnduduk dan perekonomian masyarakat. Perubahan tata guna
tanah tersebut akan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Hal ini
mengingat semakin banyak tanah yang tertutupi oleh tembok, beton, aspal, dan
bangunan lainnya yang tentunya berdampak meningkatnya laju aliran permukaan.
Penutupan permukaan tanah oleh permukiman dan fasilitas umum besar dampaknya
bagiannya, berarti setiap kali turun hujan 30 mm akan ada 225.000 m3 air hujan yang
tidak dapal meresap ke dalam tanah. Jumlah ini akan berkumpul dcngan aliran
permukaan dari kawasan lain pada lahan yang rendah sehingga dapat
mengakibatkan banjir.

3) Menekan laju erosi, dengan adanya penurunan aliran pcrmukaan maka laju erosi
pun akan menurun. Apabila aliran permukaan menurun, tanah-tanah yang
tergerus dan terhanyut pun akan berkurang. Dampaknya, aliran permukaan air
hujan kecil dan erosi pun akan kecil.

Dalam rencana pembuatan sumur resapan perlu dipertimbangkan faktor iklim,
kondisi airtanah, kondisi tanah, tata guna tanah, dan kondisi sosial ekonomi
masyarakat. Faktor Iklim yang perlu dipertimbangkan adalah besarnya curah hujan,
semakin besar curah hujan di suatu wilayah berarti semakin besar sumur resapan
yang diperlukan. Kondisi permukaan airtanah yang dalam, sumur resapan perlu
dibuat secara besar-besaran karena tanah benar-benar memerlukan suplai air melalui
sumur resapan. . Sebaliknya pada lahan yang muka airnya dangkal, sumur resapan ini
kurang efektif dan tidak akan berfungsi dengan baik. Terlebih pada daerah rawa dan
pasang surut, karena daerah ini memerlukan saluran drainase.

Kondisi tanah sangat berpengaruh pada besar kecilnya daya resap tanah terhadap air
hujan. Tanah berpasir dan porus lebih mampu merembeskan air hujan dengan cepat.
Tabel 1 menyajikan hubungan antara beberapa tipe tekstur tanah dengan kecepatan
infiltrasi.
Tabel 1. Hubungan Kecepatan Intiltrasi dan Tekstur Tanah.
Tekstur Tanah Kecepatan Infiltrasi (mm/jam) Kriteria
Pasir berlempung 25 - 50 Sangat cepat
Lempung 12,5 - 25 Cepat
Lempung berdebu 7,5 - 15 Sedang
Lempung berliat 0,5- 2,5 Lambat
Liat < 0,5 Sangat lambat
Sumber : Sitanala Arsyad, 1976.

Tataguna tanah akan berpengaruh terhadap porsentase air yang meresap ke dalam
tanah dengan aliran permukaan. Lahan yang penduduknya padat dan banyak
bangunan, sumur resapan harus dibuat lebih banyak dan lebih besar volumenya. Baik
dengan sumur resapan individual atau dengan sumur resapan secara kolektif untuk
beberapa rumah. Program pelestarian air melalui sumur resapan harus ditempuh
melalui pendekatan sosial ekonomi kemasyarakatan dan sosial budaya. Misalnya,
dalam rangka meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya
pelestarian lingkungan, khususnya penerapan sumur resapan, dengan penyuluhanpenyuluhan
intensif melalui metoda yang sesuai dengan kehidupan masyarakat
tersebut.

III. UPAYA PEMANENAN AIR HUJAN

Upaya pemanenan air hujan di Indonesia selama ini hanya dikenal di kawasankawasan
di mana pemanfaatan air permukaan maupun airtanah kurang
memungkinkan. atau memerlukan upaya pemompaan airtanah dalam.
Semestinya. sebagai sumber air yang relatif kualitasnya masih jauh lebih baik dari air
permukaan dan airtanah untuk kawasan di jabodetabek. yang mcnurut beberapa
penelitian terkini dinyatakan sudah mulai tercemar bakteri coli. dapat dimanfaatkan
dengan sistmm pemanenan air hujan yang sudah banyak diterapkan di negara-negara
lain.

Kontribusi yang mampu diberikan oleh sebuah sistem pemanenan air hujan bagi
masyarakat, dengan asumsi sebagai berikut :

1) Setiap kepala keluarga (KK) rata-rata terdiri dari 4 jiwa
2) Menggunakan data hujan daerah Dramaga, Bogor untuk curah hujan jam-jaman
dari tahun 1985 - 2002. Intensitas hujan jam-jaman tersebut dipresentasikan
dalam bentuk rumus intensitas hujan dengan perioda ulang 5 tahunan, yaitu : I =
9.497,072 / ( 43,101 + t ); dimana I = intensitas hujan (mm/jam) dan t : waktu
konsentrasi (mcnit) ( Ahmad Tusi, 2003).
3) Jumlah rumah permanen di Dramaga 10.194 unit dcngan total luas daerah 24,06 ha.
(Sumber: Kantor Pemberdayaan Masyarakat, 2001).
Maka kepadatan rumah per ha adalah 423 rumah/ha. Rata-rata tipe rumah dalam 1
ha lahan adalah Tipe 21.
4) Kebutuhan air untuk Tipe rumah 21 adalah 60 l/hari/orang.
5) Atap rumah dengan sudut kemiringan 45 derajat dan panjang_kemiringan 5,648 m.
Waktu limpas permukaan (to) dari atap sebesar 1 menit dengan koefisien pengaliran
0,90 dan koefisien retensi (Cs) 0,8 (Hindarko,2000). Bila kecepatan di dalam talang
air adalah 0,05 m/detik, maka:
waktu limpas saluran (tu) = panjang talang / kecepatan = 6 /0,05 = 120 detik = 2 menit.
Waktu konsentrasi (tc) = to + td = 1 + 2 = 3 menit. .
Intensitashujan =9.497,072/(43,101 +t) = 9.497,101 /(43,101 +3)
= 206 mm/jam.
Luas atap = A = 5,648 x 6 =; 33,89 m2 = 0,003389 ha
Maka Q = 0,00278 x Cs x C x I x A = 0,00278 x 0,8 x 0,9 x 206 x 0,003389
= 0,001397 m3/det.
Rata-rata hujan di daerah Dramaga minimal berlangsung selama 10 menit atau 600
detik dalam sehari, jika peluang kejadian hujan dalam sebulan 60 % dan perhitungan
kinerja pemanenan hujan selama musim hujan saja (6 bulan), maka limpasan hujan
yang mampu ditampung adalah:
Volume = 0,001397 m3/det x 600 det x (6 bln x 60 % x 30 hari/bln)
= 90,5 m3 .= 90.500 liter (selama musim hujan)
Kebutuhan air dalam 1 rumah ( 1 KK) dengan 4 orang jiwa adalah kebutuhan air
selama musim hujan = 1 rumah x 4 orang/rumah x 60 l/hari/orang x (6 bln x 30
hari/bln) = 43.200 liter selama musim hujan). Jadi ada kelebihan air hasil pemanenan
air hujan selama musim hujan sebesar 47.300 liter. Kelebihan ini bisa dipergunakan
untuk mengahadapi musim kemarau dan kebutuhan sekunder lainnya, scperti :
pertanian, berternak, dll.

Dari deskripsi mengenai pemanenan air hujan di atas, bahwa ada potensi yang cukup
besar dari upaya pemanenan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat
dan diharapkan dapat mengurangi laju air limpasan yang terjadi di permukaan lahan,
erosi, dan bahkan untuk mengendalikan banjir pada musim penghujan.

IV. SIMPULAN DAN SARAN

1. Pengembangan sumur resapan dapat membantu meredam puncak banjir dari
daerah tangkapannya, apabila semua warga masyarakat sadar dan mau
menerapkannya. Peran sumur resapan akan tidak berarti bila hanya beberapa
penduduk saja yang menerapkan. Oleh karena perlu adanya program pelestarian
air dengan Sumur resapan dengan pendekatan sosial kcmasyarakatan dan budaya
masyarakat setempat.

2. Upaya pemanenan air hujan perlu ditindak-lanjuti dengan kajian yang 1ebih
mendalam, mengingat berdasarkan perhitungan yang sudah di1akukan. hal ini
cukup memberikan harapan.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 1976. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu Tanah. IPB. Bogor.
Hindarko, S. 2000. Drainase Perkotaan. Penerbit ES-HA. Jakarta.
Kusnadi. 2000. Sumur Resapan Untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Soehoed, A.R. 2002. Banjir Ibukota : Tinjauan Historis & Pandangan ke Depan.
Penerbit Djambatan. Jakarta.
Tusi, A. 2003. Rancangan Sistem Drainase Di Areal Parkir Graha Widya WisudaKampus IPB Dramaga, Bogor. Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian-Fateta IPB. Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar