Jumat, 11 Juli 2008

Tangki Air PVC

Jangan bayangkan bahwa PVC yang dimaksud disini adalah pipa PVC yang selama ini kita kenal di masyarakat Indonesia untuk menyalurkan air dirumah-rumah. Yang dimaksud bahan PVC untuk tangki air ini adalah bahan sintetis dalam bentuk lembaran yang bisa dibentuk menjadi tangki air seperti gambar-gambar terlampir.

Mengapa menggunakan bahan PVC sebagai alat untuk menangkap air hujan? Ada beberapa keunggulan dari bahan pvc ini, antar lain ?
  • bahannya yang kuat juga kekuatan uji tegangan mencapai 3.000 N/50 mm untuk kualitas yang baik
  • sangat mudah dalam hal pengepakan karena bisa dilipat
  • pengangkutan menjadi lebih mudah dan murah karena pengepakan tidak menyebabkan volume menjadi besar, tidak seperti tangki air bahan fiber yang secara volume sangat sulit dalam hal pengiriman
  • instalasi dilapangan yang tidak membutuhkan waktu lama.
  • Sangat mudah untuk dibersihkan
Kelemahan dari bahan ini adalah :
  • bahan PVC masih sulit ditemukan di pasar Indonesia, jikapun ada maka dalam jumlah sedikit dan harga cukup mahal karena harus mengimport
  • peralatan untuk mengelas masih import, jikapun bisa dibuat di Indonesia maka hasilnya belum bisa dibuat secara masal sehingga peralatan tersebut masih tergolong mahal
  • Industri pendukung lainnya seperti alat katup pengisi air dan beberapa alat pendukung lainnya belum didapatkan di Indonesia
Berikut foto-foto tangki air yang bisa dibuat dari bahan PVC


Bladder











Onion Tank










Water Tank










Jika membutuhkan info lebih detil atau ingin memesan tangki air seperti gambar diatas, bisa menghubungi : Ferri Iskandar - Toko www.thetrekkers.com

Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 9

(2 Km di sebelah Utara Hotel Hyatt)

Kamdanen, Sarihardjo, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Telp +62-812-276-5434

SMS Hotline : +62-812-276-5434

Email : ferriisk@yahoo.com - ferriisk@thetrekkers.com


Ada apa dengan ketersediaan air

Lebih dari dua pertiga bagian dari seluruh permukaan bumi merupakan air, memberi tempat hidup yang 300 kali lebih luas dari pada daratan, akan tetapi sebagian besar dari air tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk kepentingan mahluk hidup karena berbagai alasan. Hanya 1 % saja yang merupakan air yang dapat dipergunakan sebagai air bersih.

Berbicara tentang air hujan tidak terlepas dari siklus air. Menurut wikipedia Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Lebih detilnya hujan (P) turun ke bumi, sebagian air itu langsung menguap (E), sebagian mengalir diatas permukaan (Q) sebagai danau, sungai dan laut. Air sungai, danau dan laut mengalami penguapan (E). Sebagian lagi meresap kedalam tanah dan menjadi air simpanan (S). Air itu ada yang meresap oleh tumbuhan dan menguap (ET), ada pula yang keluar sebagai mata air dan mengalir sebagai air permukaan. Air permukaan penguapan. Uap yang terbawa angin keatas mengembun menjadi awan. Dan awan menjadi hujan (sumber : Soemarwoto,1991)

Proses siklus hidrologi berlangsung terus-menerus yang membuat air menjadi sumber daya alam yang terbaharui. Jumlah air di bumi sangat banyak baik dalam bentuk cairan, gas / uap, maupun padat / es. Jumlah air seakan terlihat semakin banyak karena es di kutub utara dan kutub selatan mengalami pencairan terus menerus akibat pemanasan global bumi sehingga mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi.

Dilihat dari panjang dan pendeknya sebuah siklus air, ada 3 type tahapan proses siklus air atau siklus hidrologi ini :

A. Siklus Pendek / Siklus Kecil
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Terjadi kondensasi dan pembentukan awan
3. Turun hujan di permukaan laut

B. Siklus Sedang
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Terjadi kondensasi
3. Uap bergerak oleh tiupan angin ke darat
4. Pembentukan awan
5. Turun hujan di permukaan daratan
6. Air mengalir di sungai menuju laut kembali

C. Siklus Panjang / Siklus Besar
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Uap air mengalami sublimasi
3. Pembentukan awan yang mengandung kristal es
4. Awan bergerak oleh tiupan angin ke darat
5. Pembentukan awan
6. Turun salju
7. Pembentukan gletser
8. Gletser mencair membentuk aliran sungai
9. Air mengalir di sungai menuju darat dan kemudian ke laut

Dari ketiga type diatas air hujan merupakan komponen yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan siklus air atau siklus hidrologi. Akan tetapi hujan merupakan sisi pisau yang bermata dua, jika dikelola dengan baik maka dapat memberikan berjuta manfaat buat masyarakat akan tetapi jika tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan bencana yang dapat merugikan jutaan masyarakat juga.

Hampir setiap tahun kita selalu menghadapi bencana banjir, terutama pada bulan November sampai Januari. Lihat saja kejadian banjir bandang di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur pada 11 Desember 2002, dimana kurang lebih 26 orang tewas. Banjir bandang di Bohorok, Langkat, Sumatra Utara pada 2 November 2003 yang menewaskan 150 orang. Selain ratusan nyawa melayang, banjir juga menyebabkan rusaknya sarana prasarana, serta hilangnya sebagian besar harta benda. Banjir pada tahun 2004 juga menenggelamkan 269.615 hektar sawah di seluruh Indonesia, dengan 69.218 hektar diantaranya mengalami gagal panen (Kompas, 28/12/04).

Di sisi lain, kekeringan juga terjadi hampir setiap tahun. Pada tahun 2004 yang lalu kekeringan juga menyebabkan 13.150 hektar sawah di seluruh Indonesia mengalami puso (Kompas28/12/04). Saat ini saja pasokan air berkurang hampir sepertiganya dibandingkan dengan kondisi tahun 1970an, dimana bumi dihuni oleh 1,8 milyar penduduk. Pada tahun 2025 mendatang, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai 8,3 milyar orang. Besar kemungkinan pada saat itu Indonesia akan benar-benar mengalami krisis air, jika tidak diantisipasi sejak dini.

Kamis, 10 Juli 2008

Ada apa dengan air hujan

Jumlah curah hujan (CH) di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, cukup besar. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, curah hujan di negeri ini antara 600 - 6.000 mm/tahun, rata-rata 2.420 mm/tahun.

Curah hujan di Jawa rata-rata 2.000mm/tahun, bahkan di kabupaten Magelang tercatat 2.252 - 3.627 mm/tahun. Kalau saja kita bisa memanfaatkan 60% dari hujan yang jatuh, atau sebesar 1.200.000m3/tahun untuk tiap km2. Jika kebutuhan air diasumsikan sebesar 150 lt/org/hr,maka volume tersebut bisa dipakai untuk melayani hampir 22.000 orang untuk tiap km2. DKI Jakarta, yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi di Indonesia, ditinggali oleh hampir 13.000 orang tiap km2. Angka tersebut masih jauh dibawah angka 22.000. Jadi sebenarnya potensi sumber daya air kita sangat besar

Menurut penelitian Bank Dunia, dari rata-rata 175 miliar m3 air hujan/tahun yang turun dan mengalir di 100 lokasi (21 wilayah) sungai di Pulau Jawa, hanya 126 miliar m3 yang dapat dimanfaatkan, karena sebagian besar air hujan terbuang percuma

Setiap 1 cm curah hujan yang jatuh di area sebesar 40 meter persegi bisa mendapatkan air hujan sebesar 900 liter atau 237 galon air. Bila luas atap rumah kita sebesar 100 meter persegi (atau 2.5×40 meter persegi) maka kita bisa dapatkan air hujan sebanyak 900 x 2.5 = 2250 liter air hujan untuk setiap 1 cm curah hujan. Rata-rata curah air hujan di Jakarta adalah 242 cm per tahun. Jadi per tahunnya kita bisa menangkap air hujan sebanyak 242 x 2250 yaitu = 544.500 liter air hanya dari rumah kita saja. (sama dengan 143,800 galon air). Kalau air galonan kita hargakan 1000 rupiah saja, kita sudah menghemat 143 Juta rupiah

Rabu, 09 Juli 2008

Mengapa memanen air hujan ?


Seiring dengan hujan hujan moonson selama musim hujan, India tidak kekurangan air. Tapi distribusi geografis dan bulanan dari air hujan tidak imbang. Karena itu, diperlukan pemanenan air hujan. (Khususnya hanya 70 persen dari penghuni perkotaan mememiliki akses untuk air minum yang aman). hanya 30 % dari air permukaan yang digunakan, sisanya mengalir ke laut. Maka, ada potensi yang besar untuk pemanenan air hujan.

Air tanah harus diisi dengan proses pengisian alami. Namun seiring dengan penggunaan berlebihan, level air tanah nampak menurun lebih dari 4 meter di sejumlah negara. Karena disana ada peningkatan yang tetap dalam irigasi air tanah, masalahnya semakin parah. Dengan meninjau peningkatan populasi dan urbanisasi, diperkirakan bahwa semua sumber air tanah akan digunakan semua pada 2025. Sekarang, sumur-sumur telah mengering, dan kualitas air tanah menurun.Masalah yang ebrhubungan adalah air laut (bergaram) mulai menyusup ke dalam wilayah pantai, seiring dengan turunnya air tanah.

Kelangkaan air bersih terkait dengan masalah ketersediaan air baku yang kian berkurang. Alternatif solusinya terletak pada kondisi air tanah berikut pengelolaannya, khususnya yang berasal dari air hujan antara 6 - 7 bulan per tahun. Sebab, kalau selama kurun waktu itu 50% dari jumlah air hujan bisa ditampung melalui bak penampungan air hujan dan disimpan sebagai air tanah lewat sumur-sumur resapan, akan membantu pemenuhan kebutuhan air tiap hari. Bahkan dapat ikut mengendalikan banjir dan intrusi air laut

Konsep memanen air hujan (rain water harvesting) diyakini bisa dilakukan untuk menanggulangi persoalan krisis ketersedian air bersih untuk berbagai keperluan. Istilah memanen hujan sebenarnya berasal dari bidang pertanian, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan air pertanian di daerah arid dan semi arid.

Namun, upaya memanen hujan di dunia internasional saat ini menjadi bagian penting dalam agenda global environmental water resources management dalam rangka penanggulangan ketimpangan air pada musim hujan dan kering (lack of water), kekurangan pasokan air bersih penduduk dunia, serta penanggulangan banjir dan kekeringan. Memanen hujan dapat didefinisikan sebagai upaya menampung air hujan untuk kebutuhan air bersih atau meresapkan air hujan ke dalam tanah untuk menanggulangi banjir dan kekeringan (Agus Maryono)

Kecenderungannya kini mulai ada trend membuat kolam tandon air hujan skala rumah tangga. Tandon skala rumah tangga ini digunakan untuk keperluan mengepel, mencuci mobil, menyiram tanaman, menggelontor toilet. Bahkan, ada yang dilengkapi sekaligus dengan perangkat pengolahan air mini, sehingga seluruh air hujan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum..
Memanen Air hujan diartikan sebagai upaya "mengelola air hujan dg kualitas yang relatif masih sangat bagus" untuk memenuhi kebutuhan air bersih masa sekarang dan mendatang, kebutuhan pertanian, kebutuhan pengisian air tanah dll

Dalam UU no 7 tahun 2004 tentang sumber daya air, juga sudah diamanatkan tentang pentingnya air hujan.

Selain ramah lingkungan pemanenan air hujan dapat menjadi jalan keluar ataspermasalahan air bersih bagi masyarakat marjinal di perkotaan. Kantung-kantung padat penduduk miskin di kota-kota besar di Indonesia, dapat menjadi lokasi uji coba teknik pemanenan air hujan untuk menjawab permasalahan air bersih.

Ide dasar sistem pemanenan air hujan sebenarnya sederhana yaitu menampung air hujan melalui atap rumah, mengalirkan ke bak penampung, dan memanfaatkannya untuk berbagai keperluan rumah tangga. Adapun untuk konsumsi, air hasil pemanenan perlu perlakuan khusus untuk dua alasan.

Masalah kebutuhan air bersih dapat ditanggulangi dengan memanfaatkan sumber air dan air hujan. Menampung air hujan dari atap rumah adalah cara lain untuk memperoleh air. Cara yang cukup mudah ini kebanyakan masih diabaikan karena atap rumah yang terbuat dari daun rumbia atau alang-alang tidak memungkinkannya. Namun pada rumah yang beratap genteng atau seng bergelombang, hal ini dengan mudah dapat dilakukan dengan memasang talang air sepanjang sisi atap dan mengalirkan air hujan itu ke dalam tempat penyimpanan.

Beberapa ahli mengatakan bahwa air hujan dapat dipanen dengan dua cara :
- Koleksi dan penyimpanan air pada tanki dan reservoir.
- Penyimpanan air hujan dalam batu2 dekat permukaan sebagai air tanah.

Sedangkan literature lain mengatakan ada 7 cara penyimpanan air yang biasa digunakan atau dipakai di daerah pedesaan di Indonesia. Ke-7 cara tersebut yaitu :
1) Gentong penampungan air cara cetakan (Kapasitas 250 liter)
2) Drum air cara kerangka kawat (Kapasitas 300 liter)
3) Bak penampungan air bambu semen (Kapasitas 2.500 liter)
4) Bak penampungan air bambu semen (Kapasitas 10.000 liter)
5) Instalasi air bersih pipa bambu metode tradisional
6) Instalasi air bersih pipa bambu sistem pengaliran tertutup
7) Bak penampungan sumber air/mata air

Umumnya penyimpanan air yang digunakan adalah bak penampung yang dibuat dari drum, genteng dan bambu semen. Bahan ini digunakan karena : relatif murah, tahan lama, konstruksi kuat, mudah dibuat, bahan baku mudah didapat dan air yang ditampung tidak mudah tercemar.
Akan tetapi pengklasifikasian menurut cara menampung dan penggunaan air hujan bisa dilihat pada tabel berikut :

Air bisa digunakan langsung

  • Bak PAH Semen
  • Bak PAH Ferro semen
  • Bak PAH Fiber
  • Bak PAH PVC
  • Reservoar Geomembrane

Air bisa digunakan langsung dan mengkonservasi air tanah

  • Telaga
  • Cek Dam
  • Embung
  • Dam Parit

Mengkonservasi air tanah

  • Sumur resapan
  • Rorak
  • Saluran buntu
  • Lubang penampungan air (catch pit)


Selasa, 08 Juli 2008

Air hujan untuk Mengkonservasi air tanah

Mempertahankan hutan atau Reboisasi

Hutan dapat dijadikan sebagai komponen pemanen air dengan cara mempertahankan kelestarian hutan ataupun dengan melakukan reboisasi pada hutan yang telah gundul. Penelitian terakhir di hutan Amazon, Amerika Latin menyebutkan bahwa sebenarnya hutan dapat mendaur ulang hujan hingga 75 % dan 25% sisanya mengalir kehilir dan meresap kedalam tanah.

Mekanisme daur ulang hujan tersebut dimulai dengan evapotranspirasi, pembentukan awan di wilayah hutan dan awan ini jatuh kembali berupa hujan, demikian seterusnya. Daur ulang ini adalah mekanisme fungsi hutan dalam memanen hujan. Dengan 75% air hujan tersirkulasi di wilayah hutan, maka frekuensi hujan di wilayah tersebut relatif tinggi dan teratur serta musim hujannya realtif panjang. Hujan dengan frekuansi tinggi ini tidak akan menyebabkan banjir karena 75 % menguap dan hanya 25% mengalir kehilir. Kekeringan juga tidak akan terjadi, karena pasokan air 25 % ke hilir tersebut didapatkan secara kontinyu hampir sepanjang tahun.

Melihat fungsi hutan komponen daur ulang air hujan tersebut, maka kedepan hutan harus dipandang sebagai modal tetap atau aktiva tetap, bukan sebagai modal bergerak. Perlu disadari bahwa harga kayu yang dihasilkan dari merambah hutan tidak lebih dari 7% jika dibandingkan dengan harga fungsi hutan secara integral yaitu hutan sebagai penyimpan air, pengendali banjir, pengendali kekeringan, pengendali longsor, stabilisator temperatur, konservasi ekosistem mikro dan makro serta pemasok oksigen. (Agus Maryono)

Sumur Resapan

Yang dimaksud dengan sumur resapan air hujan adalah sarana untuk penampungan air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah.

Sedangkan metode sumur resapan sudah banyak dikenal masyarakat dan dapat diimplementasikan pada setiap unit perkantoran, tempat-tempat rekreasi, olah raga, pada ruas-ruas jalan, lapangan terbang, dan lain sebagainya. Masyarakat sudah banyak mengenal sumur resapan, namun implementasinya masih tergolong lambat.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, persyaratan umum yang harus dipenuhi adalah sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam, atau labil. Selain itu, sumur resapan juga dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum satu meter dari fondasi bangunan. Bentuk sumur itu sendiri boleh bundar atau persegi empat, sesuai selera. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah kita tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai.

Air hujan yang jatuh di atap rumah sekalipun dapat dialirkan ke sumur resapan melalui talang. Persyaratan teknis sumur resapan lainnya ialah kedalaman air tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan. Sedangkan struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah lebih besar atau sama dengan 2,0 cm/jam, dengan tiga klasifikasi. Pertama, permeabilitas tanah sedang (geluh kelanauan) 2,0-3,6 cm/jam. Kedua, permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm/jam. Ketiga, permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm/jam. Spesifikasi sumur resapan tersebut meliputi penutup sumur, dinding sumur bagian atas dan bawah, pengisi sumur, dan saluran air hujan. Untuk penutup sumur dapat digunakan, misalnya, pelat beton bertulang tebal 10 sentimeter dicampur satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil.

Dapat digunakan juga pelat beton tidak bertulang tebal 10 sentimeter dengan campuran perbandingan yang sama, berbentuk cubung dan tidak diberi beban di atasnya. Dapat digunakan juga ferocement setebal 10 sentimeter. Sedangkan untuk dinding sumur bagian atas dan bawah dapat menggunakan buis beton. Dinding sumur bagian atas juga dapat hanya menggunakan batu bata merah, batako, campuran satu bagian semen, empat bagian pasir, diplester dan diaci semen. Sementara pengisi sumur dapat menggunakan batu pecah ukuran 10-20 sentimeter, pecahan bata merah ukuran 5-10 sentimeter, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga. Untuk saluran air hujan, dapat digunakan pipa PVC berdiameter 110 milimeter, pipa beton berdiameter 200 milimeter, dan pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 milimeter. Sumur resapan dapat dibuat oleh tukang pembuat sumur gali berpengalaman dengan memerhatikan persyaratan teknis dan spesifikasi tersebut.

Dam Parit

Dam parit adalah salah satu alternatif konsep "zero flow" dan "long time ofconcentration". Bentuknya semacam embung atau waduk, tetapi memanjang seperti saluran. Air hujan yang jatuh pada suatu lahan ditampung ke dalam parit, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air irigasi.

Di samping peningkatan resapan air ke dalam tanah dan menghambat laju aliran ke sungai, teknologi dam parit ini juga dapat menampung air untuk sementara waktu dan menahan erosi yang mungkin terjadi di lahan sebelah hulu parit.

Rorak

Rorak adalah lubang kecil dengan panjang dan lebar 30-50 cm serta kedalaman 30-80 cm, yang digunakan untuk menampung sebagian aliran air permukaan. Air yang masuk ke dalam rorak akan tergenang untuk sementara dan mengisi pori tanah. Pebuatan rorak sangat sesuai untuk daerah dengan curah hujan tinggi dengan durasi pendek dan komposisi tanah berkadar lempung tinggi yang memiliki daya serap rendah.

Saluran buntu

Saluran buntu adalah bentuk lain dari rorak yang panjangnya beberapa meter. Penggenangan air tidak boleh terlalu lama (berhari-hari) karena dapat menyebabkan terganggunya pernapasan akar tanaman dan berkembangnya berbagai penyakit pada akar.
Lubang penampungan air (catch pit)

Bibit yang baru dipindahkan dari polybag ke kebun seharusnya dihindari dari kekurangan air. Sistem catch pit merupakan lubang kecil untuk menampung air untuk menjaga tingkat kelembaban tanah di dalam lubang dan di sekitar akar tanaman. Genangan pada lubang perlu dijaga, jika terlalu lama dapat menyebabkan kematian tanaman.

Senin, 07 Juli 2008

Memanen Hujan

Memanen Air hujan diartikan sebagai upaya "mengelola air hujan dengan kualitas yang relatif masih sangat bagus" untuk memenuhi kebutuhan air bersih masa sekarang dan mendatang, kebutuhan pertanian, kebutuhan pengisian air tanah dll. Definis lain menyebuatkan memanen hujan sebagai upaya menampung air hujan untuk kebutuhan air bersih atau meresapkan air hujan ke dalam tanah untuk menanggulangi banjir dan kekeringan.

Selain ramah lingkungan pemanenan air hujan dapat menjadi jalan keluar ataspermasalahan air bersih bagi masyarakat marjinal di perkotaan.Kantung-kantung padat penduduk miskin di kota-kota besar di Indonesia,dapat menjadi lokasi uji coba teknik pemanenan air hujan untuk menjawabpermasalahan air bersih.

Ide dasar sistem pemanenan air hujan sebenarnya sederhana yaitu menampungair hujan melalui atap rumah, mengalirkan ke bak penampung, danmemanfaatkannya untuk berbagai keperluan rumah tangga. Adapun untukkonsumsi, air hasil pemanenan perlu perlakuan khusus untuk dua alasan.

Air bisa digunakan langsung dan mengkonservasi air tanah

Cek dam

Cek dam adalah bendungan pada sungai kecil yang hanya ada aliran airnya selama musim hujan, sedangkan pada musim kemarau mengalami kekeringan. Aliran air dan sedimen dari sungai kecil tersebut terkumpul di dalam cek dam, sehingga pada musim hujan permukaan air menjadi lebih tinggi dan memudahkan pengalirannya ke lahan pertanian di sekitarnya. Pada musim kemarau diharapkan masih ada genangan air untuk tanaman, minum ternak, dan berbagai keperluan lainnya.

Embung

Embung adalah kolam buatan penampung air hujan dan aliran permukaan yang dibuat pada suatu cekungan di dalam suatu DAS mikro. Selama musim hujan, embung akan terisi oleh air aliran permukaan dan rembesan air di dalam lapisan tanah yang berasal dari tampungan di bagian hulu. Kapasitas embung berkisar antara 20.000 m3 (luasan 10.000 m2 dengan kedalaman 2 m) hingga 60.000 m3. Seringkali juga ditemui embung kecil berkapasitas 200 - 500 m3. Embung cocok dibuat pada tanah berkadar lempung tinggi karena peresapan air tidak terlalu besar.

Tujuan pembuatan embung antar lain a. menyediakan air untuk pengairan tanaman di musim kemarau, b. meningkatkan produktivitas lahan, masa pola tanam dan pendapatan petani di lahan tadah hujan. C. Mengaktifkan tenaga kerja petani pada musim kemarau sehingga mengurangi urbanisasi dari desa ke kota. D. Mencegah/mengurangi luapan air di musim hujan dan menekan resiko banjir. E. Memperbesar peresapan air ke dalam tanah.

Agar embung dapat bertahan lama, beberapa syarat lokasi yang harus diperhatikan sebelum melaksanakan pembuatan embung yaitu tekstur tanah. Agar fungsinya sebagai penampung air dapat terpenuhi, embung sebaiknya dibuat pada lahan dengan tanah liat berlempung. Pada tanah berpasir yang porous (mudah meresapkan air) tidak dianjurkan pembuatan embung karena air cepat hilang. Kalau terpaksa, dianjurkan memakai alas plastik atau ditembok sekeliling embung.

Minggu, 06 Juli 2008

Air bisa digunakan langsung

Bak PAH semen

Bangunan penampung air hujan (PAH) saat ini masih berukuran kecil dengan kualitas air yang miskin mineral, dan kadang-kadang sering retak akibat tidak adanya sistem pembasahan yang menerus terhadap bahan bangunannya. Dengan curah hujan yang tinggi dan dengan penguapan alami yang bisa ditiadakan untuk skala lokal, maka volume air hujan yang dikumpulkan bisa diperbesar asalkan bangunan penangkap air hujan yaitu atap bangunan luasnya juga diperbesar dan cukup memadai. Dalam bangunan ABSAH, ukuran resevoir penyimpan air hujan disesuaikan dengan melakukan perhitungan neraca hidrologi (mass curve analysis), dengan memperhatikan besar curah hujan dan luas atap bangunan. Kualitas air yang diperoleh bisa ditingkatkan mutunya, dan konstruksi bangunan dibuat tahan terhadap retakan.

Penyimpangan di Lapangan :
  • Aplikasi di lapangan tidak memakai saringan sehingga air tidak memenuhi syarat air bersih.
  • Ukuran untuk 1 KK tidak mengikuti perencanaan sehingga sangat kurang dari kebutuhan dasar.
Bak PAH Ferro semen

Biaya pembuatan bak PAH relatif mahal. Tetapi model PAH dari ferosemen biayanya lebih murah, mudah dibuat, bahan bakunya mudah didapat, konstruksi kuat, tahan lama, dan air yang ditampung pun tak tercemar.

Ferosemen adalah semacam dinding beton tipis dengan tulangan yang berlapis-lapis serta berdiameter kecil. Bahannya terdiri atas semen, kawat ayam, pasir, dan bak berbentuk silinder dengan volume antara 2,5 - 10 m3.

Kolam tandon air rumah tangga sudah banyak dipakai masyarakat secara tradisional sebagai cadangan air bersih. Misalnya kolam tandon harian komunal di Gunung Kidul, DI Yogyakarta (kolam PAH atau kolam pengumpul air hujan). Tiap keluarga secara individual membuat kolam tandon di bawah rumah atau di bawah teras. Untuk rumah sederhana dan rumah tingkat atau hotel dapat digunakan kolam tandon vertikal bentuk silinder dengan diameter 1-2 meter, disesuaikan dengan desain rumah yang ada, sehingga pengalirannya dapat dengan metode gravitasi.

Metode ini sangat menguntungkan karena minimal selama musim hujan kebutuhan dasar air bersih dapat ditopang dengan bak tandon ini. Dengan cara ini, kantor-kantor pemerintah dan swasta dapat memulai memanen hujan untuk mengurangi anggaran air bersih dari PDAM selama sekitar tujuh bulan (pada musim hujan dan beberapa bulan pada awal musim kemarau).

Bak PAH Fiber

>>>

Bak PAH dari bahan PVC
>>>

Sabtu, 05 Juli 2008

Menyiapkan air hujan untuk Air Minum

Penelitian membuktikan air hujan tidak dapat langsung dimanfaatkan sebagai air konsumsi baik untuk minum maupun memasak makanan. Sebab, air dari awan kandungan mineralnya rendah, kesadahannya juga rendah, asam (pH) rendah, namun unsur organik dan zat besinya tinggi yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan, seperti rapuhnya gigi.

Agar bisa dijadikan air minum, air hujan perlu ditambahkan mineral dengan memberikan kapur secukupnya. Namun, sebelum memanfaatkan air hujan, perlu adanya beberapa langkah dilakukan yakni membuat bak penyaring dan bak penampung.

Sebelum air dialirkan ke bak penampung, kurang lebih selama lima menit pertama air hujan harus dibuang untuk menghindari kotoran ke dalam bak penampung. Ketika tidak hujan kran pemasukan dan pengeluaran air harus dalam kondisi tertutup untuk menghindari masuknya kotoran organik atau binatang seperti nyamuk.

Untuk mengonsumsi air hujan sebagai air minum, para peneliti dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) menyarankan agar air tersebut direbus terlebih dahulu. Sebelum direbus perlu ditambahkan garam dapur sebanyak 36,3 mg dan kapur sirih 25 mg per liter. Untuk mengurangi kadar besi (Fe), jika menggunakan drum sebagai media penampung, drum dicat terlebih dahulu.

Agar air hujan, khususnya di daerah perkotaan dan industri udaranya banyak mengandung debu dan bakteri, dapat digunakan untuk keperluan minum dan memasak, maka air tampungan harus diolah. Yakni, harus melalui teknik penyehatan.

Tidak seperti air tanah, air hujan kekurangan garam mineral. Jadi, air hujan perlu ditambah garam kalsium. Zat kapur ini dijual oleh pedagang bangunan. Sebelum dilarutkan dalam sejumlah air, zat kapur dibersihkan dari kotoran. Lalu, larutan kapur ini dimasukkan ke dalam bak PAH dan diaduk supaya melarut sempurna. Takarannya, 25 - 100 g kapur untuk setiap 100 l air hujan. Jika kebanyakan, airnya akan terasa pahit. Pembubuhan garam kalsium ini juga untuk membebaskan gas C02 dari dalam air hujan. Gas itu bisa menimbulkan kerusakan pipa, tembok, dan beton.

Air hujan itu juga perlu ditambah kaporit sebagai desinfektan agar bakteri di dalamnya musnah. Takarannya, 1,5 g kaporit per 100 l air hujan cukup memadai. Tetapi karena kaporit yang dijual rata-rata berkadar aktif 35% dari berat total, maka kaporit yang semestinya dilarutkan adalah 4,29 g/100 l air hujan.

Untuk konsumsi, air hasil pemanenan perlu perlakuan khusus untuk dua alasan proses pemanenan air hujan tidak memungkinkan air hujan pertama berinteraksi dengan tanah sehingga air yang dihasilkan umumnya miskin mineral tanah yang dibutuhkan manusia. Misalnya kalsium, magnesium, dan kalium.

Kedua, tingkat pencemaran udara dari industri dan transportasi semakin meningkat sehingga di kebanyakan kota besar telah terjadi hujan asam.

Agar air tidak tercemar, perlu pula diperhatikan kemungkinan pencemarandari bahan atap rumah yang digunakan sebagai penampung air hujan. Bahan atap yang mengandung asbes dan logam berat (Hg, Cr, Pb, Cd, Cu) sebaiknya dihindari.

Jumat, 04 Juli 2008

Contoh kasus yang telah menerapkan memanen air hujan

Bandara Frankfurt dalam memanen air hujan

Salah satu contoh implementasi memanen air hujan adalah kebutuhan air bandara di Frankfurt, Jerman. Kebutuhan air di bandara dipasok dari air hujan yang dikumpulkan dari atap bandara tersebut. Ada beberapa metode hujan yang telah berkembang dan beberapa wacana memanen hujan yang dapat dikembangkan di Indonesia, baik memanen hujan yang langsung bisa dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih rumah tangga maupun memanen air hujan untuk mengisi air tanah. ( Agus Maryoto)

Pengalaman Jepang dalam memanen air hujan

Air hujan adalah sumber air primer. Tanpa air hujan tidak ada kehidupan di Bumi. Betapa berharganya air hujan, sampai-sampai di Jepang ada asosiasi pencinta hujan yang bernama Sumida.

Sumida adalah nama sebuah sungai besar yang mewarnai Kota Tokyo. LSM Sumida menyediakan segala sesuatu yang menyangkut pendayagunaan air hujan. Yang paling monumental adalah penampungan air hujan untuk antisipasi kebakaran di daerah perkampungan. Juga penggunaan air hujan untuk keperluan mencuci mobil, menyiram kebun dan toilet di gedung-gedung bertingkat. Bahkan kelompok ini pun mendesain penampungan air di atap gelanggang olahraga sumo yang luasnya mencapai 8.400 m2. Gedung-gedung pemerintah di Sumida City pun akhirnya memanfaatkan rancangan ini. Hasilnya? Penghematan air yang ruarr biasaaa!

Air hujan untuk mengantisipasi kebakaran (terutama di perkampungan yang tidak bisa dimasuki mobil pemadam) merupakan contoh pemanfaatan air secara bijaksana. Caranya amat sederhana. Tikungan atau persimpangan yang penting di kampung itu diperluas. Satu dua rumah diratakan. Tentu dengan ganti untung yang memadai. Di tempat itu dibikin kolam bawah tanah. Atasnya dipakai untuk taman. Beberapa pohon berbuah bisa ditanam di pinggiran. Lantas di tengah dipasang pompa. Untuk penanda apakah kolam penuh terisi air atau tidak dipasang patung dewa hujan. Bila penuh, patung itu akan berdiri tegak mempertontonkan seluruh tubuhnya. Kalau kosong tinggal topinya saja menutupi lubang tempat ia berdiri.
Patung dewa hujan itu disebut Jizo. Jizo ini sangat populer di masa silam. Anak-anak sekolah suka berteduh di bawah pohon-pohon yang mengelilingi Jizo bila hujan turun. Selain Jizo ada lagi satu peri yang juga populer, Kappa. Mirip katak, Kappa ini biasa menghiasi ember penampung air hujan. Roman mukanya akan sedih jika ember kosong, dan tersenyum gembira saat penuh.
Melalui ikon dan legenda yang sudah dikenal, Sumida menyosialisasikan program pemanfaatan air hujan. Cara lain adalah dengan mengadakan pertemuan, membentuk cabang dan ranting perkumpulan, membuat kuis atau cerdas cermat seputar masalah air.

Kelompok pencinta hujan ini wajib menyuluhi masyarakat tentang berbagai manfaat air. Bermacam-macam buku, poster, dan brosur diterbitkan untuk memuaskan dahaga masyarakat akan informasi mengenai hujan, pembuatan bak, penyaringan air, maupun pemasangan pompa untuk menaikkan lagi air ke lantai-lantai gedung bertingkat. Perlu diingat, kebanyakan air disimpan di bawah tanah karena terlalu berat bila ditampung atap. Atap berfungsi sebagai penadah saja.

Di Indonesia tradisi pemanfaatan air secara bijaksana bukannya tidak ada. Di NTT, misalnya, masyarakat suka menyimpan air dalam buli-buli atau gentong besar yang ditanam dalam tanah. Air dimanfaatkan hanya jika perlu. Sayangnya, tradisi itu tidak mengalir sampai ke perkotaan yang umumnya lebih banyak mengonsumsi air. Mengingat krisis air sudah di depan mata (Selamatkan Air Kita, Cing, Intisari Januari 2001), tak ada salahnya kita mengadopsi cara-cara orang Jepang tadi. (Khudori, alumnus Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Jember)