Senin, 07 Juli 2008

Air bisa digunakan langsung dan mengkonservasi air tanah

Cek dam

Cek dam adalah bendungan pada sungai kecil yang hanya ada aliran airnya selama musim hujan, sedangkan pada musim kemarau mengalami kekeringan. Aliran air dan sedimen dari sungai kecil tersebut terkumpul di dalam cek dam, sehingga pada musim hujan permukaan air menjadi lebih tinggi dan memudahkan pengalirannya ke lahan pertanian di sekitarnya. Pada musim kemarau diharapkan masih ada genangan air untuk tanaman, minum ternak, dan berbagai keperluan lainnya.

Embung

Embung adalah kolam buatan penampung air hujan dan aliran permukaan yang dibuat pada suatu cekungan di dalam suatu DAS mikro. Selama musim hujan, embung akan terisi oleh air aliran permukaan dan rembesan air di dalam lapisan tanah yang berasal dari tampungan di bagian hulu. Kapasitas embung berkisar antara 20.000 m3 (luasan 10.000 m2 dengan kedalaman 2 m) hingga 60.000 m3. Seringkali juga ditemui embung kecil berkapasitas 200 - 500 m3. Embung cocok dibuat pada tanah berkadar lempung tinggi karena peresapan air tidak terlalu besar.

Tujuan pembuatan embung antar lain a. menyediakan air untuk pengairan tanaman di musim kemarau, b. meningkatkan produktivitas lahan, masa pola tanam dan pendapatan petani di lahan tadah hujan. C. Mengaktifkan tenaga kerja petani pada musim kemarau sehingga mengurangi urbanisasi dari desa ke kota. D. Mencegah/mengurangi luapan air di musim hujan dan menekan resiko banjir. E. Memperbesar peresapan air ke dalam tanah.

Agar embung dapat bertahan lama, beberapa syarat lokasi yang harus diperhatikan sebelum melaksanakan pembuatan embung yaitu tekstur tanah. Agar fungsinya sebagai penampung air dapat terpenuhi, embung sebaiknya dibuat pada lahan dengan tanah liat berlempung. Pada tanah berpasir yang porous (mudah meresapkan air) tidak dianjurkan pembuatan embung karena air cepat hilang. Kalau terpaksa, dianjurkan memakai alas plastik atau ditembok sekeliling embung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar