Sabtu, 05 Juli 2008

Menyiapkan air hujan untuk Air Minum

Penelitian membuktikan air hujan tidak dapat langsung dimanfaatkan sebagai air konsumsi baik untuk minum maupun memasak makanan. Sebab, air dari awan kandungan mineralnya rendah, kesadahannya juga rendah, asam (pH) rendah, namun unsur organik dan zat besinya tinggi yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan, seperti rapuhnya gigi.

Agar bisa dijadikan air minum, air hujan perlu ditambahkan mineral dengan memberikan kapur secukupnya. Namun, sebelum memanfaatkan air hujan, perlu adanya beberapa langkah dilakukan yakni membuat bak penyaring dan bak penampung.

Sebelum air dialirkan ke bak penampung, kurang lebih selama lima menit pertama air hujan harus dibuang untuk menghindari kotoran ke dalam bak penampung. Ketika tidak hujan kran pemasukan dan pengeluaran air harus dalam kondisi tertutup untuk menghindari masuknya kotoran organik atau binatang seperti nyamuk.

Untuk mengonsumsi air hujan sebagai air minum, para peneliti dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) menyarankan agar air tersebut direbus terlebih dahulu. Sebelum direbus perlu ditambahkan garam dapur sebanyak 36,3 mg dan kapur sirih 25 mg per liter. Untuk mengurangi kadar besi (Fe), jika menggunakan drum sebagai media penampung, drum dicat terlebih dahulu.

Agar air hujan, khususnya di daerah perkotaan dan industri udaranya banyak mengandung debu dan bakteri, dapat digunakan untuk keperluan minum dan memasak, maka air tampungan harus diolah. Yakni, harus melalui teknik penyehatan.

Tidak seperti air tanah, air hujan kekurangan garam mineral. Jadi, air hujan perlu ditambah garam kalsium. Zat kapur ini dijual oleh pedagang bangunan. Sebelum dilarutkan dalam sejumlah air, zat kapur dibersihkan dari kotoran. Lalu, larutan kapur ini dimasukkan ke dalam bak PAH dan diaduk supaya melarut sempurna. Takarannya, 25 - 100 g kapur untuk setiap 100 l air hujan. Jika kebanyakan, airnya akan terasa pahit. Pembubuhan garam kalsium ini juga untuk membebaskan gas C02 dari dalam air hujan. Gas itu bisa menimbulkan kerusakan pipa, tembok, dan beton.

Air hujan itu juga perlu ditambah kaporit sebagai desinfektan agar bakteri di dalamnya musnah. Takarannya, 1,5 g kaporit per 100 l air hujan cukup memadai. Tetapi karena kaporit yang dijual rata-rata berkadar aktif 35% dari berat total, maka kaporit yang semestinya dilarutkan adalah 4,29 g/100 l air hujan.

Untuk konsumsi, air hasil pemanenan perlu perlakuan khusus untuk dua alasan proses pemanenan air hujan tidak memungkinkan air hujan pertama berinteraksi dengan tanah sehingga air yang dihasilkan umumnya miskin mineral tanah yang dibutuhkan manusia. Misalnya kalsium, magnesium, dan kalium.

Kedua, tingkat pencemaran udara dari industri dan transportasi semakin meningkat sehingga di kebanyakan kota besar telah terjadi hujan asam.

Agar air tidak tercemar, perlu pula diperhatikan kemungkinan pencemarandari bahan atap rumah yang digunakan sebagai penampung air hujan. Bahan atap yang mengandung asbes dan logam berat (Hg, Cr, Pb, Cd, Cu) sebaiknya dihindari.

0 komentar:

Posting Komentar

Kontak Kami

Info lebih lanjut bisa menghubungi www.thetrekkers.com


Toko dan Kantor www.thetrekkers.com

Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 9

(2 Km di sebelah Utara Hotel Hyatt)

Kamdanen, Sarihardjo, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Telp +62-812-276-5434

SMS Hotline + WhatsApp : +62-812-276-5434

Email : ferriisk@yahoo.com - ferriisk@thetrekkers.com

Facebook : www.facebook.com/thetrekkers Twitter : @thetrekkerscom

Youtube : http://www.youtube.com/thetrekkersjogja


Produk dan ide-ide kami bisa juga dilihat di :


www.thetrekkers.com

Blog http://blog.thetrekkers.com/


http://tenda.thetrekkers.com/


http://perahualuminium.thetrekkers.com/


http://tangkiair.thetrekkers.com/


http://toiletportable.thetrekkers.com/


http://drybag.thetrekkers.com/


http://tasp3k.thetrekkers.com/


http://sepatu.thetrekkers.com

http://perahukaret.thetrekkers.com

http://mainanair.thetrekkers.com/


http://wisata.thetrekkers.com/


http://perahu.thetrekkers.com/